Cerebro

silhouette of person
Photo by Raman deep on Pexels.com

Mungkin, beberapa hari sebelum tubuhku menjadi daging beku, aku akan meninggalkan pesan di depan pintu rumah banyak orang–termasuk pintu rumahmu. Aku kutinggalkan surat berisi permintaan maaf dan ucapan syukur atas segala hal yang telah terjadi. Aku tak akan menyisipkan kata-kata kasar di sana. Surat itu akan menjadi surat terbersih dan termanis yang pernah kuberikan untukmu. Aku juga tak akan membahas masa laluku dan kondisiku saat ini. Aku tak ingin kau berpikir tentang keadaanku atau mencemaskan kondisi hatiku.

Aku tak ingin mewariskan pahit padamu.

Dalam beberapa hari itu, setelah surat-surat kutinggalkan, aku akan mengurung diriku di kamar dan menebak-nebak apa yang orang-orang pikirkan tentang suratku–terutama kau, karena kau punya pikiran paling unik di dunia ini, meski aku (tentu saja) belum mencicipi pikiran semua orang satu persatu. Namun, aku selalu tahu, apa yang ada di kepalamu akan menjadi tanda kehadiranmu. Sama seperti surat-surat yang kutinggalkan. Mereka akan menjadi bukti bahwa aku pernah lahir dengan kemampuan mengolah perasaan–yang menurut orang lain adalah sesuatu yang sangat baik, tetapi sesungguhnya hal itu sangatlah menyiksaku.

Sekali saja, aku ingin dilahirkan sebagai seseorang yang tak memiliki perasaan. Tumbuh dan menua dalam tubuh yang tak pernah mengenal cinta. Aku yakin aku akan jadi orang terkuat di bumi meski hanya aku yang menganggapnya begitu.

Tentu saja, aku akan menangis ketika aku menulis surat untuk kau. Karena aku akan mengingat kembali hal-hal menyenangkan dan menyedihkan yang pernah kau ciptakan saat kita masih sibuk bermesraan. Sungguh, aku tak peduli jika aku harus menghabiskan waktu seminggu penuh untuk berpikir dan mengingat. Kita punya cukup banyak titik dalam ingatan. Sangat wajar jika aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengingatnya tanpa cacat.

Kadang, aku berpikir tentang apa yang akan kutinggalkan untukmu. Aku tak punya banyak uang seperti lelaki lain yang mewarisi kekayaan orangtuanya, atau para pelaku korupsi yang hidup begitu nyaman meski berada di balik jeruji. Aku tak punya sesuatu yang bisa kutinggalkan untukmu, kecuali kata-kata.

Tetapi, seperti kata kebanyakan orang, apa yang bisa kita makan dari kata-kata?

Kau tentu membutuhkan nasi dan lauk pauk sebagai pengganjal lambungmu, juga memimpikan segelas minuman mewah untuk menawar rasa lelah. Karena itu aku merelakanmu pergi bersama kekasihmu. Tak ada hal yang lebih sulit dilakukan di dunia ini selain mengikhlaskan sesuatu yang begitu menempel dalam hatiku. Maka, kuharap kau juga melakukan hal yang sama padaku. Mohon ikhlaskan aku pergi ke tempat yang lebih tinggi meski pada akhirnya aku akan meninggalkan banyak pertanyaan untukmu.

Bisa jadi, surat yang kutulis untukmu hanyalah berisi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah selesai.

Maaf jika aku membuatmu pusing atau kesal karena suratku. Namun, ingatlah, kau bisa membacanya bersama kekasihmu. Kau bisa berunding dengannya mengenai beberapa hal yang belum pernah kita lakukan meski sudah kita rencanakan. Kau dapat bertanya padanya setiap kali kau menemukan kata yang tidak kau tahu artinya. Ia akan menjadi kamus berjalanmu. Ia akan menggantikan aku.

Aku tak butuh pertanyaan darimu saat ini. Aku sama sekali tak akan menjawab pertanyaan apapun yang datang darimu. Aku merasa tak pantas untuk itu.

Aku hanya ingin bilang bahwa suatu hari nanti, aku akan meninggalkan surat di depan pintu rumahmu. Jika kau beruntung, surat itu akan terbawa angin atau rusak karena terkena air hujan, sehingga kau tak perlu membacanya dan meributkan isinya.

Sungguh, aku tak ingin merepotkanmu meski aku ingin melakukan itu. Percayalah, aku akan meninggalkan surat itu sambil mengucap doa mengenai permohonan agar Tuhan memanjangkan umurmu. Sebagai gantinya, hanya satu permintaanku: tolong relakan aku pergi ke tempat yang lebih tinggi.

— Dionisius Dexon

 

Prosa: Beastly Bit

red gray and yellow abstract painting
Photo by Steve Johnson on Pexels.com

Dionisius Dexon

Aku menyusuri jalan ini sendirian dengan kepala yang teramat bising. Ada dering telepon yang tak bisa kuhilangkan meski aku sudah membenturkan kepalaku ke dinding. Ada sesuatu yang menekan dahiku setiap kali aku mengingatmu—atau teringat padamu. Aku benci mengingatmu. Itu membuatku harus mencari cara untuk mengusir penyakitmu dan menangani segala hal yang sedang mencoba menghancurkanmu.

Kau hanya seorang perempuan yang berantakan dan sakit-sakitan. Setiap kali aku memusatkan diriku padamu, yang kau lakukan hanyalah mengeluh dan mencoba membuatku menangis. Lelah, lelah, dan lelah, hanya itu yang ada dalam kepalamu. Dan itu cukup membuatku takut setengah mati. Apa lagi yang perlu kutakutkan di dunia ini selain kehilangan seseorang yang suka mengeluh sepertimu? Setiap kali kau marah padaku dan mulai menyebut nama penyakitmu, aku selalu berdoa agar Tuhan memberikan aku kemampuan untuk merasakan penyakit orang lain.

Aku ingin kita bisa berbagi penyakit.

Setelah itu, aku tak peduli lagi tentang apa yang akan terjadi. Kau bisa mengajakku bicara hingga larut malam selama satu minggu penuh atau mengajakku berguling-guling di atas puing. Sungguh, itu tidak masalah. Aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan.

Aku paham, sangat mudah untuk merasa kecewa ketika harapan-harapan yang kau gantungkan tak bisa kau raih. Itu wajar. Manusia sering sekali menempatkan mimpi-mimpi mereka di tempat yang sangat tinggi hingga mereka sendiri bingung bagaimana cara menggapainya. Dan percayalah, sebagian besar hal yang kau dan aku rencanakan mungkin hanya akan menjadi rencana. Itu adalah takdir. Berdamailah dengan hal itu. Mencoba memastikan semua rencana berjalan tanpa ada cacat hanya akan membuat kita menyesal dan stres. Itu sebabnya aku tak begitu peduli pada rencana. Aku lebih peduli pada hal-hal spontan yang datang begitu saja.

Tapi, jika kau keberatan dengan pendapatku, kau bisa mengabaikannya dan kembali memeluk depresimu sekarang. Aku akan tetap mencoba memahamimu yang tak mau memahamiku.

Jika kau merasa kasihan padaku—atau merasa kasihan pada dirimu sendiri, kau bisa pergi denganku ke jalan layang. Di sana, kita bisa membangun rumah di atas pecahan kaca; rumah yang selama ini kau inginkan. Aku akan mengizinkan kau untuk membangunnya dengan kedua tanganmu—tanpa peduli jika kau hanya akan menghancurkannya lagi dan lagi. Sungguh, kau bisa lakukan apa pun untuk rumah itu, termasuk mewarnainya dengan warna-warna aneh kesukaanmu. Yang terpenting, kita bisa beristirahat dengan tenang di sana.

Setelah bertahun-tahun mengenalmu, ada sesuatu yang tak berubah dariku. Aku tetap tak tahu apa tujuanku. Aku hanya tahu bahwa hidup adalah sebuah perayaan. Perayaan yang tak seremeh perayaan ulang tahun atau perayaan satu tahun hubungan. Hidup adalah perayaan untuk orang-orang yang siap ditinggalkan. Dan itu berhasil membuatku menekan rasa takut dan rasa ragu—terutama ketika aku sedang jauh darimu. Jauh darimu bukanlah hal yang menyenangkan. Kadang aku merasa tersesat dan kesepian meski ada peta di tanganku dan ada sebuah pengeras suara menempel di telingaku.

Dalam pelarianku, aku selalu membutuhkanmu. Aku butuh seseorang yang mampu membantuku menemukan jalan yang tak pernah ada di peta setiap kali aku melihatnya. Jalan itu sangat jauh dan sangat dekat pada saat yang sama. Jalan itu terpampang sangat jelas dalam tubuhku, tapi begitu buram ketika dipandang oleh mataku.

Jadi, begini saja, perempuan berambut hijau, maukah kau menjadi bagian dari hidupku meski kematian bisa saja sudah begitu dekat denganmu? Karena hanya dalam dirimu, aku bisa menemukan diriku. Tak ada keraguan untuk itu.

Kadang, aku hanya ingin menjadi seseorang yang kau tempatkan begitu jelas dalam depresimu; menjadi seseorang yang cukup liar untuk frustrasimu.

— Dionisius Dexon

 

Catatan: tulisan ini terinspirasi dari lagu Beastly Bit karya Pinhead Gunpowder.

 

Alasan Mengapa Aku Membenci Diriku

adult alone backlit black and white
Photo by Pixabay on Pexels.com

Aku membenci diriku karena beberapa hal; (1) aku mudah sedih jika ada orang terdekat yang membentakku, (2) aku mudah sedih jika ada orang terdekat yang bertengkar di depanku, dan (3) aku begitu mencintai orang lain hingga akhirnya aku juga begitu mudah dikecewakan. Di antara hal-hal lain yang kubenci dari diriku, tiga hal itu adalah hal yang paling kubenci.

Tidak, kau tidak salah baca. Aku memang membenci aku. Aku tidak begitu membenci kau, mantan kekasih, politisi, atau publik figur yang melakukan hal konyol di televisi. Tidak. Aku lebih membenci aku. Dan kau harus tahu kenyataan itu.

(1)

Pada dasarnya, aku benci ada suara-suara keras di tempat yang tenang. Misalnya, ketika di dalam rumah, aku tak suka jika ada yang memutar musik dengan volume penuh. Atau misalnya, ketika suasana sedang tenang dan terkendali, aku tidak suka ada jika ada orang yang berteriak–dengan nada kebencian. Sungguh. Aku membenci hal-hal itu.

(2)

Aku benci pertengkaran–terlebih jika pertengkaran itu melibatkan hatiku. Maksudku, aku tak masalah jika melihat perkelahian gulat atau pertarungan tinju. Aku tentu menyukai pertarungan semacam itu. Namun, jika aku melihat perkelahian dua orang yang kukenal baik di hadapanku, hatiku langsung hancur.

(3)

Jika kau berkata bahwa mencintai orang lain itu mudah, aku rasa kau salah. Mencintai orang lain itu sulit. Buktinya, kau hanya bisa mencintai beberapa orang–tidak bisa mencintai semua orang. Padahal, semua orang pada dasarnya adalah orang lain. Lalu, perihal mencintai, akhirnya selalu sama: kecewa. Orang yang mampu membuatmu hancur dengan hebat adalah orang yang kau cintai.

(1 + 2 + 3)

Sebelumnya, sudah kujelaskan mengapa aku membenci tiga hal itu–yang membuatku juga membenci diriku. Sekarang, kau bisa bayangkan bagaimana jika tiga hal itu bercampur jadi satu, lalu kau juga bisa bayangkan betapa (saat ini) aku sangat membenci diriku. Karena beberapa menit sebelum tulisan ini kuketik, tiga hal di atas benar-benar tergabung menjadi satu.

Jika kau masih bingung bagaimana gabungan tiga hal itu, maka bayangkan saja situasi ini: aku melihat dua orang yang kucintai bertengkar di depanku kemudian membentakku yang berusaha untuk menjaga hati mereka.

Jadi, malam ini, aku hancur. Setelah sekian lama, kini aku kembali mengingat untuk apa air mata diciptakan. Dan air mata yang jatuh malam ini, sepertinya telah menjadi alasan keempat mengapa aku membenci diriku. Setidaknya, aku tidak membenci orang lain. Aku hanya membenci diriku.

— Dionisius Dexon

Apakah Kau Pernah Membayangkannya?

silhouette photo of person sitting near cliff during golden hour
Photo by Sindre Strøm on Pexels.com

Apakah kau pernah membayangkan kita duduk berdua di tepi danau karena kemacetan sedang mengunjungi kota?

Apakah kau pernah membayangkan kita berdua mengasingkan diri ke satu desa karena sudah sangat lelah menatap layar yang memaksa kita untuk bekerja?

Apakah kau pernah membayangkan kita berada di bawah payung yang sama ketika hujan sedang deras-derasnya?

Apakah kau pernah membayangkan kita berdua masih bisa bercanda ketika berita-berita di televisi tak lagi mampu menyebarkan kasih sayang manusia?

Aku pernah, dan selalu membayangkannya. Aku senang bisa hidup bersamamu meski hanya dalam khayalan. Kau dan aku hidup di atas tanah yang lucu. Orang-orang begitu peduli pada hal-hal kecil dan mengutuk hal-hal besar. Orang-orang lebih peduli pada seorang artis yang melakukan operasi kelamin daripada peperangan yang dipicu oleh kebencian yang dibiakan secara diam-diam.

Orang-orang lebih senang menciptakan perdebatan tanpa tujuan daripada merangkul satu sama lain untuk mencegah tersebarnya kebohongan. Orang-orang lebih senang hidup dalam ilusi dan menutupi segala hal yang ada di muka bumi. Begitu juga dengan kau dan aku. Kau lebih memilih untuk bahagia dengan dirimu sendiri dan melupakan apa yang terjadi di seluruh bagian bumi. Kau bilang, tak ada gunanya berjuang jika kasih sayang hanya bersemayam dalam diri beberapa orang.

Bertahun-tahun aku mengingat itu, tetapi aku tak bisa menerimanya. Sesuatu dalam dadaku masih bergetar ketika ada ledakan dalam berita televisi. Mataku masih memerah ketika ada banyak publik figur yang diam ketika melihat moral anak muda yang terus gugur. Tanganku masih mengepal ketika ada seseorang yang memamerkan kekasihnya di dunia maya saat sedang hangat-hangatnya, lalu mengutuk kekasihnya ketika ego mengambil alih pandangan mereka.

Semakin aku berusaha untuk tidak peduli, aku jadi semakin peduli.

Jadi, apakah kau pernah membayangkan kita berdua menari di tengah kota yang terbakar?

Apakah kau pernah membayangkan aku menulis banyak hal tentangmu setelah keputusasaan membawamu menjauh dariku?

Apakah kau pernah membayangkan apa isi buku catatanku setiap kali emosi mengambil alih kepalaku?

Aku senang hidup dalam khayalan; hidup bersamamu dalam sebuah ikatan. Namun, kali ini, aku lebih memilih untuk hidup bersama mereka yang benar-benar ada; mereka yang tumbuh sesuai dengan putaran jarum jam. Tidak, aku tidak sedang memimpikan dunia penuh kedamaian atau semacamnya. Aku hanya memimpikan hidup bersama mereka yang ingin hidup bersama aku. Aku tak peduli dengan kepergian dan keputusanmu. Tak lagi. Ada dunia yang lebih besar dan lebih rumit yang harus diterka oleh sepasang mata dan jutaan pena. Aku akan menulis banyak hal. Tanpa kau. Tanpa khayalan. Tanpa mementingkan sudah sejauh mana kau berjalan.

Jadi, sampai di sini, apakah kau pernah membayangkan menjadi aku?

— Dionisius Dexon

Kota Ini Kosong [Puisi]

man wearing green jacket
Photo by Fabian Latka on Pexels.com

/1/

Kota ini bergantung padamu.
Ingar bingar ini menyatu tubuhmu.
Jalan-jalan ialah wajah kesepian
yang sempat kau tinggalkan
tatkala aku gagal mengucap perpisahan.

Dan pelukan,
sebuah kegagalan lain
yang dengan cepat kau tanggalkan
dalam hal-hal tunggal dan janggal;
dalam hal-hal tinggal yang dipenggal.

/2/

Separuh ozon kau bawa pergi
ketika aku adalah satu-satunya
yang menolak mengerti

mengapa pagi tak pernah datang sekali lagi.

Meski hening sudah bercumbu dengan malamku,
dan riuh sudah bersandang dengan akalku,
pelangi hitam-putih tetap ada di antara fotomu.
Membias apa saja yang masih tersisa.
Memeras apa saja yang masih mendera.

/3/

Begitu jauhkah aku di satuan jarakmu?
Tak ada kilometer dan centimeter saat ini.
Semua hal yang kita pelajari dalam matematika
ialah bualan semata
–tak lebih dari dongeng 
yang diam-diam membuat kita semakin cengeng.

Setiap langkah adalah puisi-puisi
yang patah. Persis seperti lengan
yang kau hantamkan ke pintu 
sebelum dua sayap besar
membawamu begitu jauh
dariku. 

/4/

Kota ini kosong.
Semua orang adalah pohon 
yang menyamar menjadi bayangan.

Klise.
Penuh kamuflase.

Kota ini kosong.
Aku telah berulangkali menyusurinya
dengan dada yang bolong, dan
hati yang gemar mengucap dan meminta tolong.

(Dionisius Dexon, 2018)

Beberapa Bagian Puisi yang Kelak akan Menjadi Buku

pexels-photo-904616.jpeg

Satu hal yang saya suka dari kepala saya: di dalamnya selalu muncul ide-ide. Satu hal yang saya kurang suka dari kepala saya: di dalamnya ide-ide selalu bertabrakan.

Jika tidak ada halangan, buku pertama saya akan terbit bulan Agustus nanti. Judulnya Seratus Pekan Sebelum Ledakan, sebuah buku kumpulan prosa yang saya tulis sejak akhir 2017 sampai bulan April 2018 (entah dapat dikatakan cepat atau lambat). Informasi lebih lanjut mengenai Seratus Pekan Sebelum Ledakan akan saya beri tahu jika sudah mendekati tanggal terbitnya. Sebenarnya, saya juga tidak sabar.

Selain buku yang saya ceritakan di atas, saya juga punya rencana lain, yaitu menerbitkan buku kumpulan puisi. Ide ini muncul di kepala saya kemarin sore, tepat ketika kepala saya sedang pusing-pusingnya. Sebenarnya, saya sejak awal memang ingin punya buku kumpulan puisi, tetapi yang akhirnya lebih dulu menjadi buku adalah kumpulan prosa.

Rencananya, buku kumpulan puisi ini akan saya proses untuk terbit setelah buku pertama saya beres (terbit), sehingga saya tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikannya dan hasilnya bisa lebih maksimal.

Berikut adalah tiga bagian dari puisi yang kelak akan menjadi buku tersebut.

1.

Barangkali, aku yang terlalu lemah
hingga harus menulis puisi ini.
Atau barangkali, aku yang teramat pasrah
akan kehilangan kau sekali lagi.

Tak ada yang bisa kulakukan
selain melepas kata-kata dalam rangkaian
dan membiarkan tanda baca mencari cara
untuk bebas berpegangan.

Empat jari jemariku berubah menjadi sepasang kaki
yang melarikan diri di selembar kertas.
Di setiap sudut kertas itu tertulis: namamu
—yang kadang membuatku tak tega
untuk melipat atau sekadar menyentuhnya.

Namamu membuat selembar kertas menjadi rapuh;
terlalu berbahaya untuk disentuh,
dan terlalu nelangsa untuk ditinggal sangat jauh.

 

2.

Barangkali, akan kutemukan
formula lain yang bisa menempatkanmu
sebagai orang lain.

Sialnya, aku tak ingin—dan itu tak mungkin.
Adalah sebuah kebohongan yang menyakitkan
jika sebuah pena hanya mengagungkan
tokoh yang sepenuhnya rekayasa
—atau sekadar pelengkap yang tak diungkap
dan hanya hilang dalam sekejap.

Dua hal yang tidak aku suka:
membohongimu dan sekali lagi membohongimu. 
Itulah alasan mengapa aku dengan mudah
membenci diriku beberapa tahun lalu.

Kau kehilangan aku karena tipuanku.
Kau kehilangan aku karena kemauanku.

Sejak saat itu, kepalaku adalah rumah
bagi kesakitan-kesakitanmu;
danau bagi kekosongan kabarmu.

 

3.

Pernahkah kau bertanya dari mana sebuah puisi berasal?

Jika kau menanyakan itu enam tahun lalu,
maka akan kujawab: bibirmu.
Jika kau menanyakan itu tiga tahun lalu,
maka akan kujawab: lenganmu.
Jika kau menanyakan itu satu tahun lalu,
maka akan kujawab: matamu.

Jika kau menanyakan itu hari ini,
tepat di hadapanku,
maka akan kujawab: sesalku.

Sesalku adalah tubuhmu yang menangis
selama bertahun-tahun
dan memendam segala hal yang masih saja
kau anggap sebagai harta karun.

Sejujurnya, puisi-puisi ini saya salin dari buku catatan saya. Entah mengapa, saya lebih senang menulis puisi menggunakan pena daripada mengetiknya. Jadi, dari tiga bagian puisi di atas, apa judul yang tepat untuk buku kumpulan puisi–yang juga akan menjadi buku kedua saya?

 

— Dionisius Dexon 

Ingatan

pexels-photo-532358.jpeg

Segala hal yang dulu pernah kita banggakan, kini menjelma menjadi makhluk yang gemar memanggil kenangan. Jika kau bisa melihatku pagi ini, kau akan tahu bahwa aku tak bisa lagi melangkah dengan cara yang sama di atas sepasang kaki. Jalan setapak yang pernah mengarahkan kita menuju taman kota (saat itu, kau memintaku menemanimu merayakan pergantian tahun di sana), kini tak lebih dari jalan kosong yang hanya akan mengarahkanku pada kekosongan lainnya.

Pernahkah kau hidup di tempat di mana segala hal memaksamu untuk tetap ingat?

Kini aku mengerti keuntungan macam apa yang dimiliki oleh orang-orang dengan kemampuan mengingat yang buruk. Sejujurnya, aku tak membenci ingatan. Aku membenci titik-titik kepergian (dan kesedihan) yang muncul setiap kali ingatan mampu mengambil alih perasaan. Karena kau masih ada di sana, berdiri sambil membawa seikat bunga yang pernah kuberikan ketika sore sedang cantik-cantiknya.

Tak pernah ada alasan untuk tidak merelakanmu. Tak pernah ada. Adalah kematian yang membawamu pergi dariku, bukan pengkhianatan. Itu sebabnya aku tak bisa mengeluh seperti orang-orang kebanyakan. Sebuah keluhan tak akan bisa membawamu kembali ke dalam pelukan. Beribu-ribu ratapan tetap tak akan mampu membuat kita kembali bertatapan.

Entah mengapa, sejak kau tak ada, senja tak lagi jingga; pantai tak lagi damai; rumah tak lagi ramah; taman tak lagi nyaman.

Namun, tenang saja. Tak perlu kau pikirkan bagaimana akhirnya. Biarkan aku tetap mengingat segalanya sembari mendoakan yang terbaik untukmu di sana. Kelak, ingatan akan menjadi satu-satunya hal yang berharga bagi perpisahan kita.

Beristirahatlah, Cinta.

 

— Dionisius Dexon