Respirasi Amerta

PicsArt_12-30-12.16.25

Hari bahagiamu memanggil kepulanganku. Jarak yang terbentang di antara kalah dan menang, menyusut dipotong gelisah. Kau masih menjadi hal penting di garis tanganku; sebuah genggam yang selamanya hanya mampu dipendam, serupa malam yang selalu layak untuk diselam. Di wajahmu, matahari pernah terbit berkali-kali. Di tangismu, bulan pernah berusaha memeluk dirinya sendiri.

Kini segala hal itu menyusup ke dalam nadiku. Kenangan konyol yang tak pernah tergantikan saat kau masih menjadi kebanggan, kini menjadi alasan mengapa darahku terpompa menuju kesia-siaan. Ternyata benar, segala hal yang pernah membuat kita bahagia, akan menjadi luka pada saatnya.

Foto-foto kita yang tersebar di dunia maya ialah pisau yang siap menancap seketika. Sekali saja aku teringat, saat itu juga aku tersayat. Kau tentu tahu berapa banyak luka yang telah berguru di lapang tubuhku; memanggil rindu dalam pergantian temu yang sudah bertahun-tahun tidak memuat namamu.

Hari-hariku kacau.

Ucapan selamat di dunia maya.

Emoji cinta di grup SMA.

Denah lokasi di undangan merah muda.

Janur kuning di sebelah gedung serbaguna.

Tawa teman-temanmu yang dulu sempat mendukung kita.

Semua membuatku porak poranda.

Perpisahan kita memang dilandasi kesepakatan: siapa yang suatu hari nanti sudah mendapat pasangan, maka ia tidak boleh diajak dalam omong kosong kenangan. Saat itu, kita hanya dua remaja gila. Kita mengembara dengan rasa percaya bahwa dunia cukup kecil untuk dilangkahi berdua. Lalu, saat romansa sedang mengikat mati jantung kita, kesepakatan fana tercipta tanpa peduli bahwa salah satu dari kita akan terluka.

Ternyata, seperti ini rasanya saling sayang tapi tak bisa saling memegang. Sebuah ikatan tanpa masa depan. Segelintir cinta tanpa pesta bahagia. Kau matikan aku di dalam rela, kuhidupkan kau di dalam tinta. Namun, pada akhirnya… tetap remuk tak terkira.

Selama beberapa hari ini, gemuruh tahun baru tak berarti apa-apa untukku. Kembang api yang harusnya meledak di antara jiwa-jiwa yang terisak, telah rusak dihajar sesak. Hari bahagiamu menjadi satu-satunya api yang ingin kuselimuti; satu-satunya bara yang ternyata bisa berakhir sempurna. Kau dan dia, terlihat begitu terang, indah, bahagia.

Menerka dengan orang seperti apa kau akan berumah tangga, membuat akalku sedikit tak percaya. Bukankah aku yang dulu kausebut-sebut akan mendampingimu? Bukankah namaku yang dulu kautuliskan di halaman terakhir buku harianmu?

Kau telah bertukar cincin dan hatiku masih terlalu miskin. Kini di salah satu jarimu telah tersemat lingkaran baru. Lingkaran yang dulu selalu ingin kubeli agar kau percaya bahwa aku siap mematahkan tulang punggungku sendiri. Kini semua kemungkinan telah meredup dan semua kenangan telah tertutup. Cerita manis yang memuat sedih dan bahagia, telah berakhir di tengah pesta perayaan dua keluarga.

Kau begitu sempurna di sebelah seseorang yang akan segera kulupakan namanya.

Ah, luka.

Alam semesta sudah berbicara. Yang usai, biarlah terurai. Yang tak digariskan, biarlah dilepaskan. Kini kedua kakiku berjalan di atas getir keadaan. Kabut menyelimuti wajahku yang telalu malu untuk dilihat kristal matamu. Kau tersenyum dan mengulurkan tangan. Aku mengangkat alis dan mencoba tetap terlihat tampan.

Senyum palsu kukenakan, salam terakhir kutinggalkan.

[Dionisius Dexon]

—————-

Respirasi: kegiatan memasukkan dan mengeluarkan udara ke dalam dan dari paru-paru; pernapasan

Amerta: abadi (tidak terlupakan)

Tulisan ini bercerita tentang napas yang tidak terlupakan; napas yang ada di pesta pernikahan mantan kekasih.

Kata-Kata Bijak Itu Sudah Habis

man standing holding a tablet behind curtain
Photo by Juan Pablo Arenas on Pexels.com

Aku telah mencoba menguatkan banyak orang–dan sepertinya aku lupa menguatkan diriku sendiri. Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya? Selama ini, kata-kata bijak yang keluar dari mulutku hanya mampu menasehati orang lain. Untuk diriku sendiri, kata-kata itu hanya kata-kata kosong. Memang benar, lebih mudah mengingatkan orang lain daripada mengingatkan diri sendiri.

Aku hanyalah manusia bebal, Sayang.

Saat ini, kata-kata bijak sudah habis. Aku benar-benar sudah gagal menyembunyikan sedih dan takut yang selama ini tumbuh kekal di dalam jantungku. Sebenarnya, aku bisa saja membagikannya; menuliskannya di salah satu akun dunia maya dan melahap perhatian sebanyak-banyaknya. Namun, perhatian-perhatian itu hanyalah mantra-mantra biasa. Perhatian dari puluhan orang–atau bahkan ratusan orang–tidak akan berguna jika hati sudah mengikat satu nama.

Nama lengkapmu ada di hatiku. Tertulis dengan huruf kapital.

Hei, aku ingin perhatianmu. Aku ingin kau membalas pesanku atau menceritakan hari-harimu. Aku ingin hanya ada namamu di notifikasi ponselku. Hanya kamu. Cukup kamu. Tak perlu ada notifikasi lain yang membuat ponselku penuh atau hampir meledak. Kamu sudah lebih dari cukup. Kehadiranmu sudah mampu menekan segala sedih yang berusaha menghentikan jantungku.

Tetapi perhatian tidak untuk diminta, bukan?

Aku serius. Apakah selama ini aku terlihat seperti sedang bercanda ketika aku berkata bahwa kau adalah satu-satunya?

Aku hanya bercanda ketika aku berkata bahwa kau adalah perempuan terbawel di bumi.

Jika bagimu datang dan pergi adalah hal biasa, berarti aku yang terlalu berharap bahwa kau akan selalu ada. Sungguh, kau membawa duniaku bersama kepergianmu. Ini terdengar berlebihan, tentu saja. Namun, apakah segala sesuatu akan terdengar masuk akal ketika cinta mengecupnya?

Kata-kataku sudah habis.

Kata-kata bijak itu sudah habis.

Aku harus kembali mengisinya dengan jenis kesepian yang baru.

Atau mungkin aku harus menerima kenyataan bahwa selanjutnya tak ada lagi yang perlu kutulis.

[Dionisius Dexon]

Tiga Belas Hal yang Ingin Kutulis di Tanganmu Ketika Kamu Sedang Mengabaikanku

woman wearing brown shirt carrying black leather bag on front of library books
Photo by Abby Chung on Pexels.com

1

Aku mungkin tidak akan pernah bisa menulis tulisan ini karena kita tidak pernah bertemu.

2

Oksimoron mengikat jantungku satu kali lagi. Kini degupnya jadi tak beraturan, seperti degup jantung seorang pelari amatir yang terus berlari di tempat yang sama—tetapi bukankah memang seperti itu aku mencintaimu?

3

Ini Desember. Tak ada yang bisa diharapkan jatuh dan luluh. Orang-orang mungkin akan datang. Mungkin. Namun, yang pasti dan selalu terjadi, orang-orang akan pergi. Ada hal magis bernama tahun baru yang mengharuskan orang-orang membuang segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari senang. Sepertinya, aku tidak pernah membuat mereka senang.

4

Tentu ada alasan mengapa Cholil menulis lagu Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa. Sepertinya, seseorang telah membelah dadanya. Ini bagian yang menarik: Hingga kau belah rongga dadaku, mengganti isinya dengan batu… Hingga kau kunci rapat mulutku, engkau dan aku—lanjutkan sendiri.

5

Aku ingin kita tumbuh seperti Weslly Johannes dan Theoresia Rumthe—tetapi itu adalah mimpi indah yang konyol.

6

Aku selalu membiarkanmu masuk ke dalam kepalaku dan bergerilya di sana. Kau mengatur ingatan yang telah berantakan dan memasukannya ke dalam laci-laci yang berjumlah ribuan. Tak apa, lakukan saja. Kepalaku adalah tempat yang bisa dikunjungi olehmu kapan saja—jam bukanya dua puluh empat jam dalam satu hari. Aku memang senang jika kau terkenang dalam setiap detik umur yang berkurang.

7

Aku membenci Desember seperti para lansia membenci teknologi—atau seperti para bayi yang membenci berita di televisi. Desember selalu datang bersama penyakit demam dendam yang membuatku bergumam setiap malam.

8

Seorang perempuan bernama Aurelia Vizal punya sudut pandang yang menarik dan pemikiran yang dalam. Aku tak menyangka bahwa dia masih SMA. Kau harus mengenalnya.

9

Aku ingin hidup bersamamu, lalu membuat hari-hari kita seperti hari-hari pada tahun 2014.

10

Kau tidak perlu repot mencari cara untuk menyadarkanku atau menghancurkanku. Aku bisa melakukannya sendiri—jika aku mau. Percayalah, setiap menit yang kau habiskan untuk membuatku jauh darimu bisa kau gunakan untuk melakukan hal lain yang lebih baik. Membahagiakanku agar aku bisa membahagiakanmu, misalnya.

11

Benar apa kata FSTVLST; kita terlahir di masa maha palsu.

12

Aku tetap menyayangimu meski kau menganggap itu tidak spesial. Aku tetap ingin bersamamu meski kau tidak pernah ingin ada aku di masa depanmu. Aku tetap aku meski kamu tetap kamu.

13

Aku sudah menitipkan air mataku di Mesin Penenun Hujan milik Frau.

–Dionisius Dexon

 

Egocentric Plastic Man

man in black and white striped shirt with black pants and pair of black shoes sitting on black textile beside backpack near tree
Photo by Bich Tran on Pexels.com

Dionisius Dexon

Tak ada yang tahu mengapa saya bisa begitu membenci seseorang pada tahun 2011. Padahal, saya belum pernah bertemu dengan orang itu. Saya tidak pernah tahu bagaimana wajahnya, suaranya, dan tingkah lakunya. Yang saya tahu, ia adalah mantan kekasih kekasih saya (apakah kau bingung ketika membaca ini?).

Saya tak tahu apa alasannya, tetapi kekasih saya saat itu selalu saja punya celah untuk menceritakan mantan kekasihnya. Ia bilang, mantan kekasihnya punya kulit yang putih—sampai sekarang saya tak tahu mengapa ia selalu membanggakan kulit cerahnya seolah-olah itu adalah salah satu dari puluhan keajaiban dunia yang belum terdaftar, mata yang tajam, senyum yang manis, dan tubuh yang tinggi—saat itu kekasih saya berkata bahwa mantan kekasihnya adalah galah berjalan.

Jika dibayangkan, mantan kekasih kekasih saya sangatlah sempurna untuk ukuran seorang lelaki. Sangat berbeda dengan saya yang begitu kumal—saat itu. Jika kamu ingin membayangkan bagaimana saya di masa lalu, kamu dapat membayangkan ini: kulit saya terbakar matahari, saya selalu memakai celana pendek ke mana pun saya pergi, wajah saya adalah ladang jerawat, saya jarang mandi, dan tubuh saya bungkuk—meski itu tidak parah.

Singkatnya, di masa lalu, saya adalah seseorang yang rusak. Saya merusak diri saya sendiri dengan ketidakpedulian dan ketidakmauan. Saya tak peduli dengan jerawat-jerawat yang ada di wajah saya—meski di luar sana banyak sekali iklan obat penghilang jerawat. Saya juga tidak peduli dengan badan saya. Apa yang ada di kepala saya saat itu; selama saya bisa bermain musik dan nilai di sekolah tidak memburuk, kondisi tubuh saya tidak masalah. Pemikiran itu yang kemudian membuat saya jarang mandi, jarang olah raga, dan tidak merawat diri. Sampai sekarang, saya heran mengapa ia mau menjadi kekasih saya saat itu—karena ia gadis yang manis dan hampir seisi sekolah ingin mengenalnya.

Sekarang, mari kembali ke kebencian yang sebelumnya sempat saya ceritakan. Saya tidak tahu pasti kapan saya mulai membencinya, tetapi saya ingat sekali, suatu hari di tahun 2011, saya pernah bilang pada kekasih saya; “Jika kamu bicara tentangnya lagi, aku akan cari dia.” Itu jelas adalah sebuah ancaman. Sayangnya, kekasih saya tertawa. Ia bilang, bagaimana saya bisa menemukan orang yang ia maksud jika wajahnya saja saya tak tahu? Ia benar. Ditambah lagi, lelaki itu tinggal di kota yang berbeda dengan saya. Akhirnya, saya bersabar saja.

Beberapa hari setelah itu, kekasih saya kumat lagi. Ia membicarakan mantan kekasihnya di depan teman-temannya—dan ada saya di situ. Teman-temannya beberapa kali melihat ke arah saya, seolah-olah mereka ingin bertanya, “Apakah ini tidak apa-apa?” Saat itu, saya hanya bisa tersenyum kepada mereka. Saya berusaha memberi tahu bahwa saya dan kekasih saya tidak ada masalah apa-apa—memang begitu kebenarannya.

Saya akui, saya terlalu buta saat itu. Saya tahu bahwa cinta saya diremehkan, tetapi saya mencoba untuk tetap memikirkan kebahagiaan kekasih saya dan melupakan ego saya. Saya pikir, saya tak butuh disanjung atau dipuji di depan teman-temannya.

Nah, untuk para perempuan, saya beri tahu satu hal: lelaki suka dipuji. Itu benar dan kamu bisa membuktikan itu pada lelaki mana saja. Lelaki sangat suka dipuji. Lelaki lebih suka dipuji daripada diperhatikan. Itu sebabnya banyak lelaki yang malas jika terus-terusan membalas pesan yang berisi “Sudah makan, belum? Aku takut kamu sakit.” atau “Jangan tidur terlalu malam, ya. Aku enggak mau kamu terlambat datang ke sekolah.” atau “Jangan lupa berdoa, ya. Bisa saja besok kamu mati dan masuk neraka.”

Saya tidak tahu betapa sering saya mendengarkan cerita kekasih saya mengenai mantan kekasihnya itu. Yang saya tahu, semakin ia menceritakannya, saya semakin melihat hal baik pada diri saya. Ya, saya sudah mengantongi keburukan-keburukan mantan kekasih kekasih saya—dan itu cukup untuk dipakai jika sewaktu-waktu kekasih saya merendahkan saya. Apa saja keburukan mantan kekasih kekasih saya? Ia senang mabuk-mabukan, mudah berkata kasar, dan tidak terlalu pintar. Sebuah kombinasi yang payah, bukan?

Sayangnya, mendengar keburukan-keburukan mantan kekasih kekasih saya, tidak hanya membuat saya senang, tetapi membuat saya semakin benci. Maksud saya, coba pikirkan lagi. Ada banyak hal di dunia ini yang pantas untuk dibahas. Ada banyak lelaki di dunia ini yang lebih pantas untuk dipuja—Billie Joe Armstrong, misalnya. Namun, mau bagaimana lagi? Kekasih saya memang lebih suka membahas mantan kekasihnya daripada orang lain yang ada di muka bumi ini. Ditambah lagi, situasi hubungan kami yang berbeda agama, membuatnya menemukan harapan baru jika suatu saat nanti saya tak bisa menemaninya lagi.

Kasarnya begini; jika saya dan dia putus hubungan, ia punya lelaki lain yang akan menampungnya. Saya tahu bahwa pikiran itu adalah pikiran yang kurang baik. Seharusnya ia putuskan saya saja dan segera kembali ke lelaki itu. Namun, setelah diingat-ingat, saya juga yang tidak mau putus hubungan. Hehehe. Maaf, saya terlalu bodoh saat itu. Saya pikir, gadis yang bersama saya saat itu akan menjadi gadis yang akan bersama saya di pesta pernikahan nanti. Padahal, kami hanya dua anak SMA yang masih terlalu lugu untuk membicarakan pernikahan. Banyak hal yang masih akan terjadi. Banyak rintangan yang harus dilewati. Jodoh tak bisa dipastikan dengan semudah itu.

 Ah, mengingat kembali saat-saat itu membuat saya merasa bahwa saya adalah orang terbodoh di dunia. Sangat menyedihkan.

Saya ingat sekali, pernah pada suatu malam saya mengambil gitar dan menulis lagu tentang kebencian saya terhadap mantan kekasih kekasih saya. Lagu itu memuat sebelas kata f**k dan entah berapa kata moron—saya sudah tak ingat keseluruhan liriknya. Melimpahkan kekesalan saya ke dalam lirik lagu adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat itu. Lagipula, mau bagaimana lagi? Saya tak tahu wajahnya, tak tahu nomor ponselnya, tak tahu alamat rumahnya, dan tak menemukan alasan mengapa saya harus menghampirinya.

Ya, saya tak punya alasan untuk menghampirinya kemudian mengajaknya berduel—meski saya tahu bahwa saya akan kalah. Jika dipikir-pikir, ia tak pernah mengganggu saya dan kekasih saya. Satu-satunya hal yang mengganggu saya adalah kekasih saya yang terus menceritakan segala sesuatu tentangnya.

Akhirnya, beberapa hari setelahnya, saya berkata pada kekasih saya; “Sekali lagi kamu membicarakan dia, saya pergi.” Saya tahu itu ancaman yang bodoh. Saya tahu bahwa ancaman seperti itu membuat saya terdengar seperti lelaki tak percaya diri atau punya penyakit cemburu akut. Ya, saya tahu. Namun, beruntungnya, ancaman saya berhasil.

Kekasih saya tak lagi membicarakan mantan kekasihnya. Hubungan kami kembali normal. Normal, normal, normal, hingga suatu hari ia harus mengakhiri hubungan kami karena keluarganya tahu bahwa saya berbeda agama dengan mereka. Sebuah kenyataan yang pahit, bukan? Beberapa orang menganggap saya tidak baik hanya karena agama saya berbeda. Namun, saat ini, saya mengerti mengapa orangtuanya melakukan itu. Mereka hanya ingin melindungi anaknya agar tetap menggenggam kepercayaannya. Saya menghormati itu.

Beberapa hari setelah saya putus hubungan, kebencian muncul kembali di dalam dada saya. Anehnya, kebencian kembali berpusat pada mantan kekasih kekasih saya. Ya, saat itu kebencian saya memuncak, benar-benar mencuat dari kepala—hingga akhirnya saya pergi ke rumah teman dan menenggak beberapa kaleng soda di sana (saya tidak suka mabuk dan tidak ingin mencoba mabuk).

Mengapa saya membenci mantan kekasih kekasih saya?

Karena ia punya banyak keberuntungan dalam hidupnya, terutama dalam menjalin hubungan dengan kekasih saya. Ia bisa mendekati kekasih saya karena kekasih saya juga diam-diam masih menyayanginya. Ia bisa menjanjikan masa depan yang “pasti” dengan kekasih saya karena ia satu agama. Ia juga bisa mendapatkan gadis yang ia mau dengan kemungkinan diterima yang lebih besar. Fisiknya cukup baik untuk seorang lelaki, ingat?

Saya tidak tahu mengapa saya membencinya. Ia adalah musuh terbesar saya—meski ia mungkin tidak mengenal saya. Ia adalah seseorang yang hidup di kepala saya dan membuat saya ingin menghancurkan sesuatu. Ia seperti mengalahkan saya dalam permainan yang tak pernah sepakat untuk dimulai bersama—dan itu mendorong saya untuk mulai memperbaiki diri saya..

Hingga saat ini, saya tak tahu wajahnya. Namun, jika saya merenung dan mengingat kembali cerita-cerita tentangnya, saya masih bisa menemukan kecemburuan yang sama.

Dionisius Dexon

BUKU: Seratus Pekan Sebelum Ledakan

Agustus ini, buku pertama saya, Seratus Pekan Sebelum Ledakan terbit dan saya lupa menulisnya di blog ini. Sebenarnya, niat untuk menulisnya selalu ada, tetapi waktu untuk menulisnya yang (bisa dibilang) hampir tidak ada.

Bersama dengan tulisan ini, saya ingin memberi tahu bahwa buku pertama saya sudah bisa dibeli/dipesan secara online. Jika berminat, silakan lakukan pemesanan dengan cara menghubungi kontak pemesanan berikut (silakan klik): Pesan Seratus Pekan Sebelum Ledakan.

IMG_1588

Seratus Pekan Sebelum Ledakan adalah buku kumpulan prosa yang saya tulis sejak November 2017 sampai dengan April 2018. Prosa-prosa tersebut bercerita tentang cinta dua orang manusia di dunia yang hampir binasa. Seperti apa ‘dunia yang hampir binasa’ itu? Silakan beli bukunya jika ingin tahu. Hehehe.

Beberapa hari lalu, saya menulis kisah di balik buku Seratus Pekan Sebelum Ledakan. Tentu saja, saya menulisnya di Instagram–tempat di mana saya sangat aktif menulis beberapa bulan terakhir ini. Nah, agar tulisan ini tidak kosong, saya akan membagikan tulisan yang saya maksud di atas. Berikut adalah tulisannya.

TENTANG SERATUS PEKAN SEBELUM LEDAKAN (BAGIAN 1)
.
Meski Seratus Pekan Sebelum Ledakan (yang selanjutnya akan disebut SPSL) adalah buku pertama saya, tetapi SPSL bukanlah naskah pertama yang saya tulis. Naskah pertama saya adalah naskah komedi yang gagal diterbitkan tahun 2014. SPSL juga bukan naskah kumpulan prosa pertama saya. Jauh sebelum SPSL, ada naskah kumpulan prosa Elegi Heliofobi yang (juga) gagal diterbitkan.
.
Setelah berdamai dengan kegagalan itu, pada November 2017, saya mencoba menulis naskah lain. Sayangnya, seseorang mematahkan hati saya—dan membuat saya membenci dunia yang ada di dalam layar. Akhirnya, keinginan untuk menulis naskah benar-benar hilang. Saya kemudian memutuskan untuk menulis di buku catatan dan mengurangi kebiasaan menulis di media sosial.
.
Buku catatan itu menjadi sahabat saya. Saya menulis apa saja di dalamnya tanpa ada niat untuk menerbitkannya. Saya hanya ingin menulis. Itu saja. Karena jika saya tidak melakukannya, saya tidak bisa fokus bekerja. Sejak hari itu, saya menulis seperti orang gila.
.
April 2018, saya berhenti bekerja dan mulai bertanya: apa yang akan saya lakukan selanjutnya?
.
Saya membuka buku catatan dan merasa bahwa tulisan-tulisan yang ada di dalamnya sudah cukup untuk dijadikan buku. Hari itu, ide dan niat untuk menciptakan SPSL hadir di kepala saya—meski saat itu judulnya adalah Kau Membiarkan Aku Meledak. Saya kemudian mengajak Edo (@edo_17) untuk menyisipkan foto-fotonya.
.
Hari-hari setelahnya, saya dihantui oleh beberapa pertanyaan, seperti: Memangnya tulisan acak seperti itu bisa jadi buku? Memangnya tulisan-tulisan itu punya garis besar? Memangnya tulisan-tulisan itu pantas dibaca orang lain?
.
Saya sempat beberapa kali ingin membatalkan kelahiran SPSL karena merasa bahwa tulisan-tulisan di dalamnya tidak pantas dibaca oleh orang lain. Bagaimana tidak? Selain menyimpan cinta, tulisan-tulisan itu juga menyimpan kritik, protes, dan ketidakpuasan terhadap dunia. Namun, beberapa orang meyakinkan saya untuk tetap menerbitkannya. Kini, tulisan-tulisan acak itu benar-benar menjadi buku. Dan yang bisa saya lakukan adalah mensyukurinya. Setidaknya, SPSL memuat keresahan saya dengan sejujur-jujurnya.

Jadi, apakah kawan-kawan berminat untuk memesannya? Jika iya, silakan klik Pesan Seratus Pekan Sebelum Ledakan dan hubungi kontak pemesanannya. Selamat bergabung dalam ledakan! 🙂

–Dionisius Dexon

Hey, Wait… I Killed Adolf Hitler

Akhir-akhir ini, saya benar-benar jatuh cinta pada karya-karya John Arne Saeteroy, seorang kartunis yang lebih dikenal dengan nama Jason. Jika bicara tentang kartun, saya jadi ingat cita-cita pertama saya. Ketika anak-anak SD lain berkata bahwa mereka ingin jadi dokter, pilot, atau polisi, saya malah berkata bahwa saya ingin menjadi kartunis. Saya masih duduk di kelas 2 SD saat itu. Tentu saja, saya bersungguh-sungguh dengan cita-cita saya. Saya tidak akan senang jika saya berbohong mengenai sesuatu yang saya inginkan.

Saat saya duduk di kelas 4 SD, keinginan untuk menjadi kartunis semakin kuat. Saya menciptakan tokoh bernama Ernie dan membuat komik saya sendiri dengan bermodalkan kertas HVS (bekas) dan staples. Saya menciptakan komik untuk diri saya sendiri. Jika dihitung, mungkin sudah lebih dari 100 komik yang saya buat dari tahun 2004-2013. Sampai sekarang, komik-komik itu masih tersimpan rapi di lemari saya—dan akan selalu menjadi pengingat bahwa saya sempat ingin menjadi kartunis. Karya adalah mesin waktu yang hebat. Sekarang, tentu saja keinginan itu sudah pudar. Kini saya lebih ingin jadi penulis daripada kartunis. Alasannya? Silakan beramsumsi macam-macam. Sesungguhnya, tidak ada alasan khusus untuk hal itu.

Oke. Mari kembali ke Jason. Dua minggu lalu, saya membaca bukunya yang berjudul Hey, Wait… dan karya itu berhasil meninggalkan lubang di dada saya. Hampir selama dua minggu ini saya berpikir mengenai akhir cerita Hey, Wait… dan menghubungkannya dengan kehidupan saya. Ada banyak pertanyaan yang hadir di kepala saya—lalu menuntun saya untuk melakukan perenungan. Ada banyak hal menarik dari Hey, Wait…, seperti (1) sampulnya yang ikonik, (2) jalan cerita yang tak tertebak, (3) tokoh yang—terlihat—sederhana, dan (4) akhir yang memilukan. Jason tentu adalah kartunis yang hebat!

Sampul Hey, Wait... karya Jason
Semalam, saya membaca buku Jason yang lain, judulnya I Killed Adolf Hitler. Saya yang awalnya hanya bermaksud untuk menikmati karyanya sebelum pergi tidur, malah menjadi tidak bisa tidur. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam kepala saya, seperti: (1) apa yang akan terjadi jika Adolf Hitler masih hidup? (2) apa yang akan terjadi jika di masa depan nanti mesin waktu benar-benar diciptakan dan ada orang yang kembali ke masa lalu dan mengubah takdir Hitler? dan (3) mengapa saya jadi memikirkan Hitler?
Sampul I Killed Adolf Hitler karya Jason

 

Bagi saya, karya yang hebat adalah karya yang menimbulkan banyak pertanyaan dan perenungan dalam diri penikmatnya. Bukan hanya sekadar indah lalu hilang. Bukan hanya sekadar bagus lalu hangus. Karya yang hebat (setidaknya) akan menancapkan sesuatu dalam benak penikmatnya selama beberapa hari ke depan. Jason berhasil melakukan itu pada saya.

Ah, bukankah cinta juga demikian? Kisah cinta yang hebat adalah kisah cinta yang melahirkan banyak pertanyaan dan perenungan—tak hanya tentang mendapatkan kesenangan dan pengakuan. Sayangnya, kita selalu ingin segala sesuatu berjalan—dan berakhir—dengan bahagia. Mungkin itu sebabnya patah hati lebih mampu mendewasakan kita.

Jadi, apakah karya Jason mampu mempengaruhi saya? Ya, tentu saja. Saya menyukai karya-karya Jason yang tidak biasa karena karya-karya itu benar-benar mengubah saya—meski saya baru membaca dua buku karyanya. Rencananya, malam ini saya akan membaca bukunya yang berjudul Low Moon. Semoga ada hal menarik lain yang bisa saya temukan di dalamnya. 

Jadi, apakah kau tertarik untuk menikmati buku-buku karya Jason? Jika iya, pastikan umurmu sudah di atas 18 tahun—atau mungkin 21 tahun. Percayalah, saya hanya tak ingin kepalamu meledak.

—DIONISIUS DEXON

Cerebro

silhouette of person
Photo by Raman deep on Pexels.com

Mungkin, beberapa hari sebelum tubuhku menjadi daging beku, aku akan meninggalkan pesan di depan pintu rumah banyak orang–termasuk pintu rumahmu. Aku kutinggalkan surat berisi permintaan maaf dan ucapan syukur atas segala hal yang telah terjadi. Aku tak akan menyisipkan kata-kata kasar di sana. Surat itu akan menjadi surat terbersih dan termanis yang pernah kuberikan untukmu. Aku juga tak akan membahas masa laluku dan kondisiku saat ini. Aku tak ingin kau berpikir tentang keadaanku atau mencemaskan kondisi hatiku.

Aku tak ingin mewariskan pahit padamu.

Dalam beberapa hari itu, setelah surat-surat kutinggalkan, aku akan mengurung diriku di kamar dan menebak-nebak apa yang orang-orang pikirkan tentang suratku–terutama kau, karena kau punya pikiran paling unik di dunia ini, meski aku (tentu saja) belum mencicipi pikiran semua orang satu persatu. Namun, aku selalu tahu, apa yang ada di kepalamu akan menjadi tanda kehadiranmu. Sama seperti surat-surat yang kutinggalkan. Mereka akan menjadi bukti bahwa aku pernah lahir dengan kemampuan mengolah perasaan–yang menurut orang lain adalah sesuatu yang sangat baik, tetapi sesungguhnya hal itu sangatlah menyiksaku.

Sekali saja, aku ingin dilahirkan sebagai seseorang yang tak memiliki perasaan. Tumbuh dan menua dalam tubuh yang tak pernah mengenal cinta. Aku yakin aku akan jadi orang terkuat di bumi meski hanya aku yang menganggapnya begitu.

Tentu saja, aku akan menangis ketika aku menulis surat untuk kau. Karena aku akan mengingat kembali hal-hal menyenangkan dan menyedihkan yang pernah kau ciptakan saat kita masih sibuk bermesraan. Sungguh, aku tak peduli jika aku harus menghabiskan waktu seminggu penuh untuk berpikir dan mengingat. Kita punya cukup banyak titik dalam ingatan. Sangat wajar jika aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengingatnya tanpa cacat.

Kadang, aku berpikir tentang apa yang akan kutinggalkan untukmu. Aku tak punya banyak uang seperti lelaki lain yang mewarisi kekayaan orangtuanya, atau para pelaku korupsi yang hidup begitu nyaman meski berada di balik jeruji. Aku tak punya sesuatu yang bisa kutinggalkan untukmu, kecuali kata-kata.

Tetapi, seperti kata kebanyakan orang, apa yang bisa kita makan dari kata-kata?

Kau tentu membutuhkan nasi dan lauk pauk sebagai pengganjal lambungmu, juga memimpikan segelas minuman mewah untuk menawar rasa lelah. Karena itu aku merelakanmu pergi bersama kekasihmu. Tak ada hal yang lebih sulit dilakukan di dunia ini selain mengikhlaskan sesuatu yang begitu menempel dalam hatiku. Maka, kuharap kau juga melakukan hal yang sama padaku. Mohon ikhlaskan aku pergi ke tempat yang lebih tinggi meski pada akhirnya aku akan meninggalkan banyak pertanyaan untukmu.

Bisa jadi, surat yang kutulis untukmu hanyalah berisi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah selesai.

Maaf jika aku membuatmu pusing atau kesal karena suratku. Namun, ingatlah, kau bisa membacanya bersama kekasihmu. Kau bisa berunding dengannya mengenai beberapa hal yang belum pernah kita lakukan meski sudah kita rencanakan. Kau dapat bertanya padanya setiap kali kau menemukan kata yang tidak kau tahu artinya. Ia akan menjadi kamus berjalanmu. Ia akan menggantikan aku.

Aku tak butuh pertanyaan darimu saat ini. Aku sama sekali tak akan menjawab pertanyaan apapun yang datang darimu. Aku merasa tak pantas untuk itu.

Aku hanya ingin bilang bahwa suatu hari nanti, aku akan meninggalkan surat di depan pintu rumahmu. Jika kau beruntung, surat itu akan terbawa angin atau rusak karena terkena air hujan, sehingga kau tak perlu membacanya dan meributkan isinya.

Sungguh, aku tak ingin merepotkanmu meski aku ingin melakukan itu. Percayalah, aku akan meninggalkan surat itu sambil mengucap doa mengenai permohonan agar Tuhan memanjangkan umurmu. Sebagai gantinya, hanya satu permintaanku: tolong relakan aku pergi ke tempat yang lebih tinggi.

— Dionisius Dexon