Wanita Beralunan Musik Blues

Kamis malam. Kedai kue pancong. Pukul 20.30.

Akhirnya, keinginan makan kue pancong dapat terpenuhi.

Tapi, dengan antrian sepanjang ini, kira-kira kapan kue pancong bisa sampai ke tangan?

Mengantri memang menyebalkan.

Tapi rasa sebal itu menghilang setelah melihat ke sekitar.

Di meja bagian tengah ada wanita dengan kemeja merah bermotif kotak. Rambutnya terurai indah ketika dipandang dari belakang.

Setelah lama diperhatikan, ia menengok.

Matanya menatap kesini, wajah cantiknya mulai terlihat jelas.

Ah.. ketika menatapnya, seperti ada suara alunan musik jazz, sangat menenangkan.

Lalu ia memalingkan wajahnya kembali.

 

Berfikir sejenak. Apakah ini pertanda bahwa harus berkenalan?

Setidaknya, itu yang dilakukan pria sejati saat bertemu wanita yang disukainya.

 

Melihat situasi, ada empat orang di mejanya. Sedangkan aku, hanya bersama seorang sahabat disini.

Orang-orang lain di sekitar hanya terlihat sebagai pengunjung kedai kue pancong yang lapar.

 

Kukembalikan fokus ke wanita itu, ia terlihat sedang asik tertawa.

Apa yang sedang ia bicarakan disana?

Dan lagi, siapa pula laki-laki berbadan besar yang ada di sampingnya itu?

Badannya bahkan lebih besar dari etalase counter pulsa.

Kenapa mereka berdua terlihat sangat akrab?

 

Wanita itu menoleh kembali.

Ah.. alunan musik jazz kembali terdengar.

Bukan. Sekarang lebih terdengar seperti musik blues.

Sayangnya, sekarang ia lebih cepat memalingkan wajahnya.

Musik blues itu hilang kembali.

 

Saat ini, seperti hanya ada dua pilihan: berkenalan dengannya atau hanya menatapnya.

Tapi, siapa tabung gas yang ada di sampingnya?

Jangan sampai malam ini terjadi perkelahian dengannya.

Tapi kalaupun terjadi perkelahian, mungkin sebanding dengan namanya yang akan kudapatkan.

Laki-laki itu berkacamata.

Apakah kupecahkan saja kacamatanya dan bawa kau pergi?

Itu terlalu kriminal.

Atau mungkin, lebih baik lupakan resiko dan mulai bertindak.

Sebelum apa yang ada di depan mata hilang seperti yang sebelumnya.

Baiklah, akan kudatangi mejanya dan mulai berkenal-

“Mas! Kue pancongnya sudah nih!” Mas-mas pembuat kue pancong membuyarkan lamunan.

“Hah? Iya, berapa?” tanyaku.

“Delapan ribu, Mas.”

“Oke, ini.”

“Makasih, Mas.”

Kulangkahkan kaki ke arah parkiran untuk pulang. Dengan sengaja, kuambil jalan memutar agar bisa lewat di hadapan wanita tadi. Mata kami bertemu kembali.

 

Ah.. musik blues itu terdengar kembali.

Bisakah beritahu di mana kau ciptakan musik seindah ini?

Atau, kau cukup diam saja. Biarkan aku menikmati musik ini untuk terakhir kalinya.

Iklan

3 pemikiran pada “Wanita Beralunan Musik Blues

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s