Larut Tenggelam

Nafasku mulai habis. Kukira, aku bisa menahan nafas lebih lama. Ternyata tidak. Paru-paru sudah menyatakan ketidaksanggupannya.

Aku mengambil nafas ke permukaan.

Tanpa pikir panjang, aku aku kembali menyelam. Kali ini, lebih dalam.

Walaupun memakai kacamata renang, tidak ada yang bisa kulihat di dalam air.

Tidak ada tanda dari adanya makhluk hidup.

Penyebabnya sudah sangat jelas. Aku berada di kolam renang pada hari senin pagi.

Yang bisa aku lihat hanyalah gumpalan udara kecil yang keluar dari mulutku. Serta dinding kolam renang yang telah bertahun-tahun membendung air yang tercampur kaporit.

Lagi-lagi aku menyesuaikan nafas.

Tidak banyak yang aku dengar di dalam air.

Entah mengapa, aku merasa rileks.

Setelah semua hal yang aku alami, ini rasanya seperti terapi.

Beban yang sebelumnya memberati pundak, seperti ikut mengambang.

Ternyata enak rasanya, dikelilingi oleh air yang tenang.

Andai saja aku tidak harus menahan nafas. Mungkin aku akan tertidur di dalam air. Beristirahat dari penatnya beban yang terus menghujam di balik tabir. 

Di tengah ketenangan ini, pikiranku mengingat kembali semua masalah dan hal-hal yang akan kuhadapi.

Tak masalah.

Kini aku merasa tidak ada keraguan. Aku merasa tenang. Seperti ada teman yang akan selalu menemani.

Bahkan hal terburuk pun sepertinya akan mudah aku atasi.

Air ini membuatku berada di zona nyaman.

Dulu saat kita masih berada di perut ibu, kita juga dikelilingi air, bukan?

Mungkin itu sebabnya aku sangat tenang ketika masih berada di perut ibu.

 

Hmm.. sebentar, arus airnya mulai tidak tenang.

Seperti ada sesuatu yang mendekat.

Saatnya aku keluar menuju permukaan.

 

“Pulang, yuk?”  kata salah seorang sahabat.

“Udahan?” aku memastikan.

“Iya. Udah jam segini,” katanya yakin.

“Okelah.” Aku meng-iyakan.

 

Kukeluarkan diriku dari air.

Matahari bersinar dengan teriknya. Cahayanya seakan ingin membakar kulit.

Tubuhku terasa dingin. Basah sudah jelas menjadi penyebabnya.

 

Sinar mentari yang sangat terik, tidak bisa secara langsung menepikan dingin di kulit.

Setelah mengeringkan badan, panas mentari baru benar-benar terasa.

Bukan, bukan panas, lebih seperti hangat.

 

Aku berpikir sejenak.

Aku merasa kalau kolam tempat aku menyelam tadi bisa diibaratkan sebagai zona nyamanku.

Dan di luar kolam, tempat dimana aku tersiram oleh sinar terik matahari ini,  kuibaratkan sebagai zona tidak nyaman.

Saat aku keluar dari zona nyaman, rasanya tidak enak. Dingin.

Rasanya ingin segera kembali ke zona nyaman. Ke dalam kolam.

Tapi, saat aku mencoba mengeringkan badan dari air yang membasahi, rasanya berbeda. Tidak dingin lagi.

Dan ini mengajarkan aku satu hal: Jika aku mau sepenuhnya meninggalkan zona nyaman dan beradaptasi, zona tidak nyaman ternyata tidak terlalu buruk.

Ditambah lagi, tanpa zona tidak nyaman, aku tidak bisa merasakan apa itu arti ‘pulang’.

 

Kulangkahkan kaki menuju tempat parkir. Terapiku telah selesai. 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Larut Tenggelam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s