Ego dan Perjuangan

Keringat adalah penanda bahwa perjuangan telah mencapai batas tenaga. Di mana keringat  tertetes, di situ perjuangan tergores. Perjuangan adalah tanda dari seorang manusia yang telah keluar dari kotak amannya.

Hari demi hari berlalu, ambisi besar kini mulai redup karena ego. Yang awalnya bersatu, kini terpencar. Betapa susahnya mempersatukan kembali berbagai macam pola pikir yang jumlahnya masih puluhan. Seakan kata terima kasih dan permintaan tolong tidak cukup kuat menghilangkan ego.

 Ego mulai terlihat seperti penyakit menular. Diawali oleh satu orang, lalu yang lain ikut terpengaruh. Ini bukan hanya terlihat di mata saya, tapi juga di mata para pemimpin yang berjuang keras untuk kepentingan bersama.

Perasaan aman dan nyaman sudah pasti menjadi tujuan kita di akhir hidup nanti. Tapi tidak di masa muda. Sayang sekali jika masa mudamu dihabiskan untuk cari kenyamanan saja. Seperti anak ayam yang tidak mau pergi dari kehangatan induknya, tidak berani mencari hal baru, tumbuh tua tanpa dapat apa-apa.

Dan hidup, tidak semudah kamu melihat orang lain. Percuma rasanya, ingin seperti orang lain tapi tidak mau mengeluarkan keringat sendiri. Itu hanya jadi mimpi yang abadi.

Bayangkan, ketika nanti kamu hanya bisa terduduk di kursi goyang dengan wajah penuh kerutan. Lalu anak dari anakmu menanyakan tentang apa yang kamu lakukan di masa muda. Dan kamu tidak bisa bercerita banyak. Bahkan, anak dari anakmu akhirnya lebih tertarik untuk diceritakan dongeng. Dimana cerita dongeng umumnya berakhir dengan happy ending.

Bayangkan, ketika kamu bertemu banyak orang yang bisa menceritakan masa mudanya dengan menarik dan kamu hanya diam mendengarkan. Perlahan kamu mengingat masa mudamu dan menyesal. Usiamu tidak bisa dikembalikan lagi.

Ambisimu, menguatkanmu.

Malasmu dan egomu, perlahan membunuhmu.

Jika kamu tidak mau membantu perjuangan orang lain, jangan mengharapkan bantuan orang lain.

Jika kamu tidak mau keluar dari zona amanmu, jangan iri dengan pencapaian orang lain.

Jika kamu tetap mengikuti rasa malas dan egomu setelah membaca ini, bersiaplah untuk menjadi tokoh figuran seumur hidup.

Belajarlah berterimakasih melalui perbuatan. Bukan dengan kata-kata yang diucap sebentar lalu hilang.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s