‘Kamu’ yang Ada di Semester Tiga

tumblr_lxi1g81w591qgt39to1_500

 

Aku rasa hujan dan situasi tadi pagi sudah menyusun rencana hebat untuk memukul ingatanku hari ini.

Aku baru saja bertemu seseorang yang mirip denganmu. Iya, kamu. Tadi pagi, ada seorang wanita berwajah manis yang dengan santunnya menyapa setiap orang yang bertatapan dengannya. Termasuk aku. Sapaan yang membuatku terdiam selama beberapa detik.

Bagaimana aku tidak terdiam, senyumnya sama persis seperti senyummu. Rambutnya, warna kulitnya, matanya, nyaris sama.

Bodohnya, aku sempat berfikir kalau itu memang kamu. Aku hampir saja memanggil namamu di keramaian pagi tadi. Untung saja logikaku bertindak lebih dahulu. Dalam hitungan detik aku sadar kalau itu bukan kamu.

Ia hanya mirip kamu.

Lagipula, kamu sudah pindah jauh kesana, kan? Aku tidak melihat ada alasan kuat kamu akan kembali lagi kesini. Jika ada, itu bukan karenaku.

Aku jadi ingin berterima kasih pada wanita yang tadi pagi kutemui. Ia mengingatkanku padamu, tepatnya pada saat-saat dimana aku memperjuangkanmu dulu. Saat-saat dimana masa kuliahku terasa cerah. Saat-saat dimana aku merasa seperti orang paling beruntung dan paling berani. Saat-saat dimana aku menghabiskan pagi, siang, dan malam, untuk mendengarkan ceritamu dan memecahkan kode-kodemu. Haha. Aku juga tak akan lupa saat kamu terduduk diam di parkiran kampus dengan memasang wajah ngambekmu. Wajah yang saat itu membuatku panik namun sekarang sangat kurindukan.

Itu semester 3 yang indah.

Sekarang, untuk melihat wajahmu saja aku tak bisa. Jangankan melihat wajahmu, memulai chat denganmu saja aku ragu. Yang bisa kulakukan saat aku merindukanmu seperti ini adalah pergi ke tempat-tempat yang biasa kamu datangi. Berharap kamu sedang berada di tempat itu, lalu secara tak sengaja kita bertemu.

Tapi, aku sudah mencobanya berulang kali dan tidak pernah berhasil.

Saat ini, aku sedang mengejar seseorang yang lain. Seseorang yang sebenarnya jika aku boleh jujur, tidak lebih baik darimu. Orang yang masih kuragukan apakah bisa membuatku bahagia sepertimu. Tapi, ini upayaku untuk terus mencoba bahagia.

Aku yakin kamu pun sudah bahagia disana. Di tempat yang selalu kamu idam-idamkan di setiap ceritamu dulu. Tempat yang kamu bilang akan membuatmu terlihat sempurna. Tempat yang diam-diam selalu aku doakan agar kamu bisa kesana.

Pada akhirnya,

Tuhan memang baik. Doaku dan mungkin juga doamu, telah dikabulkan. Kamu sudah pindah kesana. Senyum memenuhi wajahmu. Akupun tersenyum, tapi sedih lebih memenuhi rasaku saat itu. Bagiku, kesenanganmu yang utama.

Aku senang di beberapa hari pertama kepindahanmu, kamu tanpa henti memberikan kabar bahagia. Kabar mengenai teman-teman barumu, suasana barumu, dan semua hal yang berkaitan dengan kondisimu disana. Ternyata doaku tidak sia-sia. Kamu memang benar baghagia.

Tapi, aku tak tahu apa yang terjadi disana.

Sekarang, kamu sudah tak pernah lagi bercerita. Bahkan, kamu tak lagi menyapa. Sampai akhirnya aku tahu bahwa kamu sudah bersama orang yang lebih baik dariku disana.

Tak apa, doaku memang agar kamu bahagia.

 

 

 

*Sekedar mengklarifikasi, ‘kamu’ yang dimaksud disini bukanlah ‘kamu’ yang saat ini sedang kukejar. Tapi ini tentang wanita yang dulu kukejar, sebelum ‘kamu’ yang sekarang. Jangan ge-er ya. Semoga ‘kamu’ yang sekarang nggak baca.*

 

 

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “‘Kamu’ yang Ada di Semester Tiga

  1. Ping balik: Kenapa Gue Nge-Blog? – Dionisius Dexon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s