Untuk Wanita Manis yang Kini Menghilang

Hai, wanita manis yang sempat menjadi lamunan.

Jika aku bertanya mengapa kau berubah, apakah kau akan menjawab?Jika tidak, biarkan aku sendiri yang menyimpulkan lewat tulisan ini.

Aku awali semua dengan terima kasih. Kamu sudah mau datang di saat-saat aku sedang memperjuangkan dia. Percayalah, sifat riangmu sudah membantuku melewati kegilaan karena dia. Jika tidak ada kamu saat itu, entah aku akan terpuruk seperti apa.

Aku tidak bisa mengingat dengan baik kapan kita berkenalan. Yang kuingat dengan baik, aku jatuh cinta saat percakapan pertama. Bagiku, ini hal baru. Tidak biasanya perasaanku tergetar karena kata-kata. Kamu yang pertama bisa membuatku seperti ini. Hebat.

Kamu itu unik. Mengejutkan dari saat awal kita berkenalan.

Wanita mana yang saat awal berkenalan langsung bertanya tentang blog? Cuma kamu. Wanita yang langsung bertanya tentang musik yang kubuat? Cuma kamu juga.

Dari awal, kamu sudah menanyakan hal yang tidak pernah orang lain pada umumnya tanyakan. Kita berkenalan lewat pembicaraan yang berbeda. Aku masih ingat kok, saat kita bertukar link blog dan kamu malu-malu karena blogmu sudah lama tidak terisi. Lalu kita tertawa sama-sama, seakan sudah lama saling kenal. Ya, kamu sangat terlihat tidak suka basa-basi. Kamu sangat jujur. Tidak seperti wanita-wanita di luar sana yang suka menebar kode.

Perkenalan dalam satu malam cukup untuk mengetahui banyak hal tentangmu. Tentang tempat kerjamu yang ternyata dekat dengan tempat kuliahku, tentang rumah kita yang ternyata berdekatan, sampai banyak hal yang bahkan panjang jika ingin kuceritakan.

Oh iya, kamu waktu itu juga memberi semangat saat aku akan orasi untuk arak-arakan wisuda. Ingat?
Saat aku pergi survei ke Muara Gembong, kamu juga menemaniku. Walau hanya lewat barisan kata-kata di layar hp-ku ini. Ingatkah?

Beberapa bulan sudah cukup untuk memberitahuku bahwa kamu yang selama ini aku cari. Banyak hal yang kusukai darimu. Kamu membuatku nyaman. Nyaman karena aku bisa menjadi diriku sendiri. Sudah lama aku tidak merasa nyaman seperti ini.
Namun sayangnya, saat itu aku masih terfokus mati-matian mengejar dia. Sehingga kamu akhirnya terabaikan. Kudiamkan.

Maaf. Aku tahu kamu pun sadar. Kamu mulai kuabaikan saat aku sedang diombang-ambing oleh dia. Semua yang kutulis selalu tentang dia. Waktuku sebagian besar untuk memikirkan dia. Kurasa itu wajar. Karena (saat itu) aku memang menginginkan dia. Tapi yang bodoh dari diriku saat itu adalah tidak memikirkan posisimu.

Aku menulis ini karena sudah menyadari kebodohan yang kupunya. Tiap kata yang kutulis ini, disusun oleh rasa menyesal. Jujur saja, aku sangat menyesal. Aku terlihat seperti mengorbankanmu demi dia. Dan apa yang kulakukan ini ternyata salah.

Sekarang, apa yang terjadi?

Dia yang kuperjuangkan mati-matian, ternyata tidak layak untuk kuperjuangkan. Aku memutuskan berhenti berjuang karena tidak dihargai olehnya.

Dan kamu? Kamu sekarang jadi menjauh. Kebodohan terbesarku saat itu adalah menceritakan tentang dia padamu. Kusadari, sejak itulah kamu benar-benar berubah.

Aku tahu, saat kamu kuajak nonton belum lama ini, kamu takut. Kamu takut kujadikan pelarian. Kamu takut karena aku terkesan sebagai orang yang tidak baik. Aku pun sadar, wanita mana yang mau didekati oleh pria yang baru saja menyatakn perasaannya ke wanita lain. Normalnya tidak ada.

Kamu tidak salah. Aku yang membuat kamu jadi seperti ini.

Percayalah, rasa menyesal sudah memenuhi kepalaku selama seminggu ini. Semua karena sikapmu yang benar-benar berubah.
Terlebih lagi aku tidak pernah bisa mengatakan semua hal ini padamu. Aku rasa itu hanya akan memperburuk suasana. Hanya lewat tulisan ini aku akhirnya bercerita.

Terima kasih banyak. Maaf jika aku telah mengecewakanmu. Maaf jika aku terlihat seperti seseorang yang buruk di matamu. Sekali lagi, kamu tidak salah. Aku yang salah.

Dan aku juga ingin bilang, kalau aku sudah move on darinya. Aku sudah tidak memikirkan dia lagi.

Entah, pikiranku kini terpusat padamu. Mungkin ini yang baru dinamakan cinta. Beberapa minggu lalu aku menginginkan dia, tapi yang sebenarnya aku butuhkan adalah kamu. Sumpah, aku belum pernah jatuh cinta setolol ini.

Saat ini, aku kehabisan kata untuk menghubungimu. Aku tak tahu caranya lagi.

Jika kamu baca tulisan ini, aku harap permintaan maafku diterima. Dan mungkin, kita bisa kembali seperti awal kita kenal. Saling berbicara satu sama lain tanpa beban, terus mengenal satu sama lain, dan yang paling kuinginkan saat ini adalah: kita menua bersama. Karena hatiku ternyata membutuhkanmu.

Terima kasih, anak magang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s