Cuma Patah

2012.

“Nanti aku mau ngomong.” katanya sambil merogoh isi tasnya.

“Mau ngomong apa?” kataku.

“Nanti aja, pas pulang.” katanya sambil menyodorkan buku yang ia pinjam.

“Yaudah.”

Hari itu adalah hari kamis pagi.  Aku membawa sepeda motor baru yang belum ada plat nomornya dan tanpa sengaja bertemu dia di gerbang sekolah. Sudah beberapa tahun sejak hari itu, tapi aku masih mengingatnya dengan jelas sampai hari ini. Hari itu adalah sepuluh hari setelah 1 tahun hubungan kami.

Setelah ia mengembalikan buku pagi itu, rasanya sekolah jadi sangat menyenangkan. Ada segaris senyum di wajahku selama jam pelajaran. Rasanya senang dan tenang, karena ia orang yang pertama kutemui di sekolah dan tak perlu diragukan lagi, ia juga orang yang paling terakhir aku pikirkan dan aku doakan semalam.

Ingin tahu siapa namanya?

Lebih baik tidak kusebutkan nama aslinya, karena dapat menimbulkan kegeeran kalau ia membaca tulisan ini. Sebut saja namanya Wulan. Wulan Guritno. Haha. Bukan, Wulan saja.

Tanpa terasa, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku yang saat itu sedang kelaparan, bermaksud mengajak Wulan untuk makan mie ayam bakso. Mie ayam bakso yang waktu itu kumakan saat perayaan satu tahun hubungan kami. Enak. Membayangkannya saja tak cukup.

Seperti biasa, kutunggu ia di parkiran sekolah. Sekitar sepuluh menit ditambah beberapa detik, ia datang bersama teman-temannya. Tak seperti biasanya, wajahnya murung. Kukira ia lapar, langsung saja kutawari.

“Makan yuk.” kataku.

“Langsung pulang aja.” balas Wulan sambil menunduk.

“Emang nggak laper? Aku laper, nih.”

“Yaudah, iya, makan.”

“Asyik.”

Aku menyalakan motor dan keluar melalui gerbang sekolah bersama Wulan. Dulu, bisa mengantar orang yang disayangi setiap pulang sekolah saja sudah sangat menyenangkan. Dan untuk Wulan, aku mengantarnya pulang setiap hari. Bukan karena Wulan yang meminta, tapi aku yang ingin.

Di tengah perjalanan keluar dari gang sekolah, Wulan hanya diam. Aku merasa ada yang aneh. Biasanya ia selalu bicara tanpa henti. Apalagi ketika sedang berdua di atas motor.

“Lagi kenapa?” tanyaku.

“Gapapa.” jawabnya.

“Diomongin aja kalau ada apa-apa.”

“Mau ngomong tapi nggak yakin.”

“Ngomong aja.”

Dia diam sejenak. Kurasa ia sedang berusaha mengumpulkan suara.

“Dion, kita udahan, yuk?” ia akhirnya bicara. Suaranya gemetar.

Aku kaget.

“Udahan? Maksudnya?” aku spontan bertanya.

“Ya, udahan. Sampai sini aja.” ia menjawab. Masih dengan suara yang bergetar.

“Nganterin kamunya sampai sini aja?”

“Bukan akunya, hubungannya.”

“Emang tadinya hubungannya mau dianterin sampai mana?”

“Serius, Dion.”

“Hubungan kita kan emang serius.”

“Jangan bercanda!” ia membentak.

Aku akhirnya berhenti untuk bercanda. Sebenarnya, sejak awal Wulan bilang untuk udahan, aku sudah mengerti maksudnya. Aku hanya ingin memastikan bahwa ini semua tidak benar-benar terjadi. Dan aku berharap ia berubah pikiran.

“Kenapa?” aku akhirnya serius. Suaraku tertahan rasa cemas.

“Ya, udahan aja. Cukup sampai sini.” jawabnya.

“Iya, kenapa?”

“Kamu terlalu baik.”

“Itu bukan alasan.”

Dia diam. Saat itu motor sengaja aku kemudikan lambat. Aku tak ingin ia cepat sampai di rumah. Atau mungkin aku hanya ingin agar semuanya jelas.

“Jadi, alasannya?” tanyaku lagi.

“Kita itu nggak bisa bareng.” jawabnya.

“Ini kita bareng. Setahun kita bareng.”

“Keluargaku nggak suka sama kamu.”

“Keluargaku suka-suka aja sama kamu.”

“Ini serius, Dion.”

“Sama, aku juga serius.”

“Mamaku nggak suka kamu, mamaku pengen kita udahan.”

“Alasannya?”

Aku sama sekali nggak tahu apa alasan ibunya Wulan bisa benci denganku saat itu. Beberapa hari lalu, aku baru saja ke rumah Wulan dan ibunya biasa saja. Tapi kali ini, kata Wulan, ibunya membenciku.

“Kamu tahu lah, pasti.” katanya

“Nggak tahu.” kataku.

“Kita itu beda.”

“Ya, kan kalau kita sama nanti bisa disangka anak kembar.”

“Kita ini beda agama, Dion!” ia mengeraskan suaranya.

Aku diam sejenak.

“Ya, terus?” aku bertanya dengan suara agak gemetar.

“Mamaku nggak mau kalau aku sama yang beda agama.”

Bagiku, itu adalah alasan yang cukup jelas. Tanpa celah. Tidak bisa dibantah, tidak bisa dilawan, dan tidak bisa aku bercandakan. Aku mati kutu. Lidahku kaku.

“Jadi, kita udahan.” kali ini Wulan berkata dengan tegas.

Aku diam. Aku tidak membalas kata-katanya lagi. Aku dengar ia masih bicara, namun aku tidak ingat banyak. Aku mendadak kosong. Beberapa menit kemudian, Wulan turun di gang depan rumahnya. Aku sengaja menurunkannya disitu agar aku tak bertemu dengan ibunya. Aku mengerti bagaimana aku harus bersikap saat itu.

Sesaat sebelum aku memutar balik motor, Wulan menepuk pundak. Aku tahu, ia ingin memastikan semua baik-baik saja. Tapi nyatanya, tidak ada yang baik-baik saja.

Aku meninggalkan Wulan di depan gang rumahnya. Tanpa ada kata perpisahan. Tanpa ada kontak mata. Aku mengendarai motor ditemani lamunan.

Sekitar 15 menit kemudian, aku mematikan motor dan merogoh hp yang ada di saku celana. Ada sebuah pesan masuk. Dari Wulan.

Isi pesannya adalah:

Dion. Kamu nggak apa-apa, kan?

Aku duduk dan tersenyum kecil saat membacanya. Aku tahu ini bukan kemauannya. Atau mungkin saja ini memang kemauannya.

“Aku tidak apa-apa kok, Wulan. Cuma patah.” aku hanya menjawabnya di dalam hati.

Saat itu, kuputuskan untuk tidak membalas pesannya lagi. Setidaknya sampai aku terbiasa.

Setelah sejenak terdiam, aku mematikan hp dan kembali menaruhnya di saku.  Aku mengatur posisi duduk dan menarik  satu mangkok mie ayam bakso yang ada di depanku. Akhirnya, aku makan mie ayam bakso yang waktu itu kumakan bersamanya. Sendirian.

 

 

“Tulisan ini diikutsertakan Giveaway -Pameran Patah Hati-”

Iklan

7 pemikiran pada “Cuma Patah

  1. Entah kenapa banyak banget yg mengalami seperti ini, pacaran beda agama. Tuhan memang satu, kita yg tak sama *nyanyi*

    Gua suka geregetan sendiri kalau ngebahas pacaran yg kaya gini, kesel, mau lanjut emang beda, mau udahan sakit hati. Btw kenapa gua yang galau ya? Hehehe

    Gua juga ikutan GA ini loh, samaa *toss*

    Suka

  2. Hai dion.. sebelumnya aku mau ngucapin terimakasih banyak karena udah berpartisipasi dalam GA Pameran Patah Hati 🙂

    salah 1 problematika saat menjalin suatu hubungan, sebuah perbedaan yang telak banget, g bisa diganggu gugat, kecuali cinta sudah membutakan. aku pernah ngalamin hal serupa juga, dan aku sendiri sadar, aku dan mantan g bakal masuk ke tahap serius karena kita beda. tapi g berarti g ada pengganti yang lebih baik kan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s