Malam Setelah Pukul Sembilan

Akhirnya kita bisa benar-benar berbicara berdua dengan bertatap muka.

Tidak lagi berbicara lewat layar handphone yang seringkali membuat salah sangka karena tidak adanya ekspresi dan nada.

Mungkin apa yang kita bicarakan saat bertemu, tidak benar-benar penting.

Cerita soal kakimu yang sakit, jam tidurmu yang dibawah jam sembilan, hingga kesulitan mengurus tugas pemetaan, semuanya tidak lebih dari hal kosong yang sengaja dikatakan.

Sayangnya, pembicaraan yang membosankan itu, didukung oleh saudaramu yang sangat lama menjemputmu.

Mungkin saja saudaramu sedang mengantar seseorang ke Jepang.

Atau mungkin, Kairo?

Berlebihan.

Saudaramu hanya lalai dalam memperlakukan wanita.

Lalu, apa yang kudapat dari obrolan kita?

Tidak ada.

Tidak ada satu hal pun yang spesial.

Jantungku berkata bahwa semua ini hanyalah ketertarikan mata semata.

Kamu tidaklah spesial.

Apalagi menempati hati yang memang masih porak-poranda.

Terlebih lagi, aku menjadi benci.

Aku benci ketika kamu percaya diri kalau aku peduli.

Aku benci ketika kamu yakin kalau aku tidak akan pergi.

Aku benci ketika kamu terus berbicara dan melakukan kontak mata lebih sering dari yang aku lakukan.

Aku sangat membencimu sejak malam itu.

Tetapi, aku bingung.

Kalau aku membencimu, kenapa aku harus repot merangkai semua ini?

Duh.

– 6 Oktober 2016

Iklan

17 pemikiran pada “Malam Setelah Pukul Sembilan

  1. Saya udah liat sebagian tulisan – tulisan pendek di blog ini, niceee… jadi pengen belajar buat gini.. Ohya, ini juga blogwalking pertama saya ke blog ini.. Tampilan dan tulisan, serta blog ini membuat saya lumayan betah berlama – lama..

    Berasa kayak bertemu dengan mastah.. hehe, nanti saya balik lagi kok..

    Suka

  2. Ini benar-benar sajak yang penuh kebimbangan banget yaa. Aku tahu ketika kamu tulis ini, pasti sedang keinget sama si dia itu. Akhirnya kalian berdua bertemu dan tidak hanya berbincang lewat handphone semata.

    Meski nggak penting ngomongin apa, asalkan bertemu saja kan pasti sudah bisa mengobati rasa rindu lah.

    Suka

  3. Jenis tulisan kayak gini bagus banget.
    saya juga kepengen bisa.
    sayanganya belum kesampean.

    mungkin saya harus banyak membaca postingan2 bang dion lagi supaya dapet pencerahan.
    kunjungan pertama saya nih kayaknya ehem

    Suka

  4. Ini mah kisah klasik. Dari benci menjadi cinta wkwkwk. Suka sama seseorang tuh begini awalnya. Ada sesuatu dari dia yg membuat kita kepikiran dia terus, dan saat lu menyadarinya mendadak “dia” sudah berubah menjadi bagian yg tidak terpisahkan dari diri lu hehehe…

    Suka

  5. Gue suka nih tulisan pendek begini tapi ada makna. Gue kadang nulis panjang, tapi muter-muter. Pusing jadinya.

    Mau memperpende tulisan jadi begini kok ya belum bisa ya.

    Suka

  6. Dalem banget ya kayaknya membuatnya dengan rasa tulus sepenuh hati..
    Tapi kenapa endingnya jadi benci ke wanita itu bang.. itu ‘benci’ atau ‘benar2 cinta’ ? haha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s