Curahan Perasaan Selama Satu Bulan

Selama kurang lebih satu bulan ini, aku sengaja menghilang dari blog; sengaja memberi jeda menulis di tempat yang sudah kuanggap ruang pribadiku ini.

Alasanku menghilang cukup menyebalkan, sebenarnya. Aku menghilang setelah mengalami patah hati yang menurutku tidak biasa. Ya, karena itu saja. Ada seorang perempuan yang membuatku jatuh dan hancur dengan hebatnya. Tetapi tidak apa-apa. Karena dia, kini aku jadi punya pemikiran baru dan mulai menjadi tidak biasa.

Mungkin cerita tentang pertemuan dan perpisahanku dengannya akan segera kutulis di postingan berikutnya. Tunggu saja. Aku akan sangat senang jika bisa berbagi cerita.


Lalu apa saja yang kulakukan selama satu bulan ini? Izinkan aku menceritakannya.

1. Mengasingkan Diri

Setelah patah hati itu, aku pergi menginap di Jakarta; di rumah nenekku. Kusebut ini mengasingkan diri karena keberadaanku di Jakarta adalah untuk tidak mengingat ‘dia’. Aku tidak mengasing dari orang-orang, tetapi mengasing dari momen-momen yang membuat ingat.

2. Banyak Membaca Buku

Kesalahanku adalah hanya membaca buku yang kusuka saja. Padahal, ada banyak sekali buku yang bisa memberikanku pemahaman berbeda. Beberapa buku menemaniku dalam satu bulan ini, seperti buku Garis Waktu katya Fiersa Besari, Distilasi Alkena karya Wira Nagara, sampai beberapa tulisan dari Boy Candra.

Buku-buku yang kubaca dalam satu bulan ini memang berputar di buku yang membahas mengenai patah hati, dengan tujuan bisa membuatku berdamai dengan kepatahan yang kualami.

3. Merenungi ‘Tujuan’

Aku merenungi apa yang sebenarnya kusuka. Aku memang menyukai musik. Aku senang bermain musik. Namun, menulis yang membuatku tetap merasa hidup. Maka, kukuatkan niatku untuk terus menulis, tak peduli bagaimanapun situasinya.

Aku berpikir untuk mencoba memanfaatkan media sosial semaksimal mungkin. Selain blog, aku meluas. Aku mencoba menulis di Instagram, Twitter, dan beberapa platform lain. Kubuat hampir semua akun media sosialku tak jauh dari kata ‘menulis’.

4. Menulis #jurnalhidup2017 di Instagram

Setelah memutuskan untuk menjadi pengagum Fiersa Besari, aku juga ikut membuat jurnal di Instagram. Kuberi nama jurnal yang kubuat ini #jurnalhidup2017.

(Untuk yang ingin berteman- saling follow -di Instagram, bisa cek akunku di sini: @diondexon)

Tujuanku menulis jurnal ini adalah untuk memahami bagaimana hidup berjalan. Kutulis setiap hari. Semacam diary, mungkin. Tetapi tidak se-personal itu. Jurnal ini lebih membahas mengenai beberapa hal yang kudapatkan, kemudian kubagi pesannya kepada teman-teman yang sudah ‘mau-maunya’ membaca.

Hasilnya sejauh ini cukup membuatku senang. Ada beberapa orang yang terus berkomentar positif, ada beberapa orang yang sering bertanya (curhat) karena merasa apa yang kutulis sesuai dengan apa yang mereka rasa, dan ada yang selalu mengingatkan ketika sehari saja aku lupa menulisnya.

Yang tidak membuatku senang, ada beberapa orang yang dengan santainya meng-copy paste tanpa mencantumkan siapa penulis aslinya. Haduh.

5. Menulis Pendek di Twitter

Twitter memang unik. Ketentuan 140 karakternya membuatku harus memikirkan hal-hal penting tanpa perlu bertele-tele. Akhirnya, kutulis beberapa hal yang biasanya terlintas sekejap di pikiranku.

(Jika ingin saling berteman di Twitter, bisa cek akunku di sini: @diondexon )

Hasilnya? Aku senang walaupun rata-rata hanya satu sampai lima orang yang me-retweet dan menanggapi. Setidaknya, aku punya teman berbagi.

6. Mencoba Menulis dengan ‘Aku-Kamu’

Kuakui, remaja zaman ini sangat suka menggunakan ‘gue-lo’ ketimbang ‘aku-kamu’. Bagi sebagian besar remaja, menggunakan/menulis dengan ‘aku-kamu’ adalah hal yang jijik.

Hahaha. Aku juga dulu berpikir seperti itu. Dulu aku hanya menggunakan ‘aku-kamu’ untuk berbicara ke pacar atau orang tua.

Alasanku untuk menulis menggunakan ‘aku-kamu’ cukup sederhana: aku mulai bosan menggunakan ‘gue-lo’ dalam menulis; mulai mencoba menulis dengan sedikit halus (kurasa ‘aku-kamu’ lebih halus; dan menulis dengan ‘aku-kamu’ membuatku bisa merenung lebih dalam.

Lagipula, sebelum ada ‘gue-lo’, semua orang menggunakan ‘aku-kamu’, kan? Ya kecuali jika mereka menggunakan bahasa daerah.

Yang ingin kusampaikan di sini adalah: tidak peduli apakah kamu laki-laki atau perempuan, menggunakan ‘aku-kamu’ bukanlah sebuah kesalahan.

7. Mencoba Memahami Bahwa Isi Dunia Tidak Sama

Begini, ketika aku mulai rajin menulis di media sosial, aku tak luput dari komentar-komentar yang menyebalkan. Ada yang mengatakan ‘cengeng’, ada yang mengatakan ‘lebay’, ada yang mengatakan ‘alay’.

Nah, ini. Tidak semua orang sepertimu. Tiap orang punya standar ‘lebay’ mereka sendiri. Lagipula, lebay dan alay itu menurutku tak ada. Yang ada hanya orang-orang yang ‘berbeda’ yang sekitarnya belum siap untuk menerimanya.

Aku menulis galau bukan berarti aku sedang galau stadium akhir. Bisa jadi aku sedang tertawa ketika menulisnya.

Jadi, bagi orang-orang yang suka menghina/mencaci karya penulis, pahamilah bahwa menulis adalah cara untuk berdamai. Kegalauan bukan berarti payah. Kegalauan bukan berarti lemah. Dan kegalauan yang dituliskan, bukan berarti lebay. Bisa jadi itu adalah cara yang dilakukan si penulis untuk bisa berdamai dengan kegalauannya.

Kalau kalian pikir itu lebay, bagaimana dengan orang-orang yang mencoba mengatasi galaunya dengan mabuk-mabukan, main perempuan, dan sebagainya? Yuk, mikir. Sesungguhnya ke-lebay-an hanya ada di sinetron yang untuk satu adegan kaget saja harus memakan waktu tiga episode.


Kurang lebih itulah yang kulakukan selama satu bulan ini. Bagaimana dengan kalian, teman-teman blogger dan teman-teman penulis?

Tetaplah menulis, tetaplah berkarya, tetaplah bahagia, walaupun dunia tak lagi sama.

 

Iklan

9 pemikiran pada “Curahan Perasaan Selama Satu Bulan

  1. Patah hati sih bisa dibilang hal yang paling menyakitkan dlm kehidupan remaja… gue sendiri juga pernah sakit hati… cara gue biar gak terlalu patah hati paling gue ngumpul ngumpul sama teman teman… yah walaulpun terkadang mereka bisa saja memunculkan rasa sakitnya… tp temen temen selalu bisa membawa kebahagiaan dlm sakit…

    Untuk aku kamu…
    Gue juga berpikiran bakal enakan pake aku kamu… rencananya sih gue coba rubah gue lu jdi aku kamu… gue mulai coba terapin d blog gue… tp malah jdinya labil bgt.. ntar pake aku kamu.. ntar balik lagi jdi lu gue.. mungkin karna kebiasaan…. tp yg anehnda gue juga terkadang pake saya anda… jd terlihat lbil gue terkadang :v

    Suka

  2. jalankan patah hati, dicuekin aja aku udh kesel campur aduk.

    ada baiknya jika kamu melakukan hal hal yang bermanfaat seperti mengikuti organisasi, baksos, dan lain lain.

    btw……aku belum pernah nyoba nyoba yang namanya “pacaran” dan kuusahain aku gk mau pacaran, karena di medsosku ramai sekali pasangan yang berantem gara gara pacaran.

    Suka

  3. Ini nih hal yang kelihatannya sepele tapi efeknya bis di luar dugaan. Ya namanya patah hati, membuat orang yang sedang patah hati bisa berubah dari segi perilaku dan bisa membuat tidak semangat hidup.

    Tapi apapun itu kita harus bisa melawan dan melupakan patah hati mas, biar hidup ada semangat dan bisa berkarya.

    Selamat datang kembali mas.

    Suka

  4. wah, 1 bulan yang ‘padat’ ya, gue (eh maaf udah kebiasaan pake gue, hehe) jadi terinspirasi sama jurnal2017 lo itu. jadi pingin bikin juga gitu…ide yang bagus dan inspiratif. tapi setelah gue pikir pikir, emang enakan itu pake aku-kamu daripada gue-lo ya, lebih bisa diterima sama semua pembaca gitu. Kalo gue-lo itu kayak yang baca masih pada abege gitu, padahl makin ke sininya gue main dewasa cenderung tua.

    Suka

  5. Hai, Dexon
    Lagi ngecek Reader, nggak sengaja ketemu blog kamu…
    Aq juga sama sih, 1 bulan (lebih 5 hari malah) nggak ngeblog. Tapi alasanku beda, padat sama kegiatan di sekolah yang makin ‘menggila’ aja
    Wah, kita sama ternyata. Aku juga pernah patah hati dan yang aq lakuin hampir sama kayak kamu. Aku nulis puisi dan aku juga suka musik. Dari kecil aku udah kebiasaan pake aku-kamu sampai sekarang, hingga nanti.
    Amaze banget, bisa nemuin orang yang pernah ngerasain hal yang sama ^.^
    Kalo sempat, silahkan main ke anastasyapratiwi.wordpress.com
    Itu rumah mayaku…
    Salam kenal, ya.

    Suka

  6. wadaw, kena efek patah hati rupanya. Gue dulu pernah patah hati langsung jadi orang bego, gak tidur 24 jam gara-gara galau, kampret memang.

    obat patah hati paling ampuh menurut gue sih menyibukkan diri aja, dengan kegiatan yang positif tentunya, itu salah satunya udah lo lakuin: membaca buku.

    patah hati juga biasanya malah bikin orang jadi lancar nulis loh haha. Tetep semangat, bro!

    Suka

  7. Oh jadi ini alesan buat caption panjang di ig dengan bentuk poto yang baru? Aku suka baca tuh captionnya, ya emang bagus sih, pas baca berasa banget lagi galaunya. Tapi mungkin kalau ini aku aja yg sok tau.

    Soal patah hati kayanya aku belum pernah ngerasain deh, kalau nyesek mah sering kayanya. Ya, cuma sebates nyesek aja.

    Soal pake gua-lu boleh tuh dicoba, kalau aku sendiri sih pake ‘aku-kamu’ tergantung orang pertama yg ngajak ngobrol, dia pakenya apa terus ikutin deh.

    Suka

  8. Wah ngomongin patah hati nih.Gue sih belum pernah merasakan hal tersebut.Karena mendengar dari teman teman dekat gue bahkan dari tulisan ini rasanya cukup sulit untuk dilupakan ya contoh nya seperti ditulisan ini,sampai sampai lo mengasingkan diri dan melupaakan kenangan tersebut.

    Mungkin jika udah saat nya nanti,gue akan mencoba.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s