REPERTOAR (1)

Aku percaya bahwa setiap orang memiliki titik balik—sebuah kejadian luar biasa yang dapat mengubah cara seseorang dalam menjalani hidup untuk selamanya. Titik balik dapat datang tiba-tiba tanpa peduli apakah kita masih perlu waktu untuk mencerna. Seperti titik balik yang kualami, misalnya.

Titik balik yang kualami belum lama terjadi. Namun, berhasil memberikan cukup banyak pelajaran untuk kusyukuri. Mungkin apa kualami ini hanyalah sebuah kejadian biasa di mata sebagian besar orang. Tetapi tak apa. Setiap orang memang tidak bisa memandang—apalagi merasakan—suatu kejadian dengan cara yang sama. Kita semua pasti punya cara masing-masing untuk merasakan bagaimana hidup berotasi. Dan titik balikku, pasti terjadi dengan cara yang memang sudah direncanakan oleh waktu.

Maka, untuk menghargai sebuah titik balik dan semua yang terlibat di dalamnya, akan kutulis kisah kecil mengenai titik balik yang baru saja terjadi di hidupku. Kutulis ini dengan sejujur-jujurnya berdasarkan urutan waktu, tanpa menerka-nerka, tanpa menambahkan drama.

[ Akhir November 2016, di Rumah ]

Aku terduduk di ruang keluarga, memandangi layar televisi yang sama sekali tidak tahu sedang menceritakan apa. Pikiranku sedang melayang jauh, mencari tempat-tempat di dasar mimpi untuk berlabuh. Ya, aku sedang merasa lusuh. Aku merasa ada sesuatu yang perlu kulakukan sebelum nantinya berpeluh.

Aku ingat bahwa semester depan, akan ada tantangan yang baru yang mengejutkan. Menjadi mahasiswa tingkat akhir memang tidak pernah seindah yang diharapkan. Selama ini aku terlalu sibuk bermalas-malasan. Terlalu sibuk menunda banyak hal yang bisa kukerjakan.

Ah, apa saja yang sudah kulewatkan?

Waktu berjalan dengan cepat hingga kini aku dihadapkan pada semester delapan.

Bagaimana dengan berbagai macam harapan?

Bagaimana dengan kelanjutan hubunganku dengan teman-teman?

Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti bukan manusia. Aku telah larut dalam sebuah repetisi yang fana. Berulang kali hanya memandang semesta sebagai takdir yang berputar begitu saja. Aku menyia-nyiakan waktu. Aku lupa caranya mengejar impianku.

Selain itu, apa lagi yang kulewatkan?

Aku semakin pusing. Kuganti saluran televisi dengan mengerenyitkan dahi. Sebagian kecil saluran menayangkan drama. Sebagian besar saluran menayangkan berita unjuk rasa.

Ah. Drama dan unjuk rasa.

Sudah berapa lama aku lupa untuk menunjukkan rasa?

Padahal, hatiku sudah tahu ke mana ia ingin berada. Di hatiku sudah ada seorang perempuan yang baik hatinya. Tetapi, aku tidak pernah sekali pun menyatakan apa yang kurasa padanya. Aku terlalu sibuk. Terlalu sering melintasi dunia dalam keadaan mabuk.

Aku sama sekali tidak punya obrolan yang berarti dengannya. Bahkan, belum pernah bertemu dengannya secara nyata. Aku beberapa kali melihatnya. Namun ia tidak melihatku, tentunya. Jika hanya salah satu yang melihat, maka bukan bertemu namanya.

Jika ada yang bingung mengapa aku bisa jatuh cinta tanpa pernah berbicara berdua dengannya, maka akan kujelaskan dengan sesingkat-singkatnya:

Aku jatuh cinta pada isi kepalanya. Aku jatuh cinta pada caranya membuatku tertawa. Aku jatuh cinta pada caranya memandang isi dunia. Jika ada yang mengatakan bahwa cinta laki-laki adalah selalu tentang fisik, maka akan kusangkal lewat kisahku ini. Memang, aku tertarik padanya saat pertama kali melihat wajahnya yang manis. Tetapi, jatuh cinta baru terjadi saat ia penuhi semestaku dengan bahagia.

Jatuh cinta yang seperti itu, memangnya ada? Ada. Rasaku ini buktinya.

[ 1 Desember, di Kantin Kampus ]

Di tengah jeda kuliah, aku teringat akan beberapa momen yang gagal kubuat bersamanya—perempuan yang sudah satu tahun ini menjadi arah rasa. Aku pernah ingin mengantarnya, namun hujan membuat janji kami berubah tiba-tiba. Aku beberapa kali ingin mengajaknya pergi bersama, namun tugas kuliah membunuh waktu yang kupunya dengan tega.

Aku berpikir.

Bagaimana jika langsung kuungkapkan saja rasaku padanya. Kita sudah saling mengenal selama satu tahun. Apa lagi yang perlu kuterka? Sama sekali tidak ada keraguan di dalam rasa. Hatiku memang sudah mengarah kuat padanya.

Semester delapan akan jadi semester yang sangat berat untuk dijalankan. Dan mungkin saja, dengan kehadirannya yang benar-benar kudamba, aku bisa melewati segala macam rintangan dengan bahagia. Ya, tak ada yang bisa mengalahkan dua anak manusia yang berkomitmen untuk menghadapi getir bersama. Atas nama cinta.

“Hei! Jadi, sekarang sama siapa?” seorang teman datang dan membuyarkan lamunan.

“Apanya?” kutanya balik.

“Pacar. Masa nggak punya-punya.”

Sebenarnya, aku benci ketika ada orang yang merasa setingkat lebih hebat karena sudah memiliki pasangan. Mereka lupa, bahwa pacarnya saat ini, bisa saja tidak menjadi bagian dari keluarganya di masa depan nanti.

“Nggak nyari pacar. Nyari teman hidup.” kataku, malas.

“Sudah tiga tahun. Masih mau berapa lama?” tanyanya lagi.

Aku memang berbeda pandangan dengannya. Bagiku, yang kubutuhkan soal ‘cinta’ bukanlah status pacar, tetapi teman hidup. Aku benci ketika mereka yang berpacaran, saling mengekang satu sama lain atas nama cinta. Seakan-akan, dunia mereka harus dalam satu kandang yang sama.

Aku lebih memilih memandang seseorang yang aku cintai sebagai teman hidup. Tak peduli aku ingin ke mana dan ia ingin ke mana, yang penting saling menemani dalam melewati pekatnya hidup. Aku tak perlu status ‘pacar’ yang biasa orang-orang pamerkan di media sosial. Silakan memiliki pacar karena memang cinta, bukan untuk memamerkannya semata. Jangan juga salah mengartikan cinta sebagai ‘harus punya pacar’. Bagiku, itu hanya akan membuatmu terus berganti-ganti pacar tanpa belajar.

“Aku sudah lima kali ganti pacar. Kau, mana?”

“Untuk apa ganti-ganti?” tanyaku.

“Untuk senang-senang, lah. Makanya, kau juga cari, sana.”

“Memang kenapa?” tanyaku lagi padanya.

“Nggak apa-apa, sedih melihatmu jomlo.”

Jika bukan karena kesabaranku, ia sudah kusiram kuah soto.

[ 3 Desember 2016, di Rumah ]

Kubuka sebuah kotak yang selalu kusembunyikan keberadaanya. Alasan mengapa kotak itu perlu kusembunyikan adalah isi hatiku telah tertuang bebas di dalamnya. Isi kotak itu adalah potongan-potongan kertas karton berwarna kuning dan biru. Pada setiap potongan karton, terdapat tulisan pendek yang kutulis tentangnya—perempuan itu.

Ya, aku mencoba mengabadikan dia melalui rangkaian kata-kata. Ia memang menjadi alasanku untuk berkarya. Atau mungkin, cinta yang menjadi alasan sebenarnya.

Tetapi, apa yang akan kulakukan dengan karton-karton ini?

Aku berulang kali membaca semua kata yang ada di setiap potongan karton—yang jumlahnya hampir mencapai ratusan. Karton itu seperti bercerita tentang apa yang kurasa selama satu tahun mengenalnya. Karton itu menjelaskan bagaimana rasaku berkembang; mulai dari penasaran saja, sampai menjadi cinta—dalam diam. Aku takut semua yang kutulis dengan jujur di potongan karton ini hanya berakhir di tempat sampah saat aku mulai menua nanti.

Ah, mengapa tidak kuberikan saja padanya?

Semua ini adalah tentangnya. Semua kata-kata—yang menurutku manis—ini memang mengarah padanya. Maka, ia adalah salah satu orang yang layak untuk membaca dan menyimpannya. Ya, aku akan mengutarakan rasaku dengan bantuan potongan karton ini.

Sebuah rencana tersusun di kepalaku.

Aku akan memberikan catatan perjalanan rasaku ini padanya. Aku akan memberikan apa yang sudah satu tahun ini kubuat tanpa sepengetahuannya. Aku akan memenangkan hatinya. Aku akan membuatnya merasa berbeda. Maaf jika apa yang kurencanakan ini tidak seperti laki-laki lainnya. Jika laki-laki lainnya mendekatimu dengan memberikan bunga, maka aku akan memenangkan hatimu dengan kekuatan kata-kata.

Percayalah, apa yang kulakukan ini hanya agar kau paham bahwa aku ingin bersamamu dalam satu rasa yang sama.

-BERSAMBUNG- 

TAMBAHAN: 

Setelah memikirkan matang-matang, kuputuskan untuk tidak melanjutkan cerita ini. Alasannya? Ada kisah seseorang yang sepertinya harus kujaga. Mungkin kisah tentangnya akan kutumpahkan di tempat lain. Maka, silakan berandai-anadai bagaimana akhirnya. Kugantungkan cerita ini agar imajinasi kalian bebas mengangkasa.

🙂

 

Iklan

7 pemikiran pada “REPERTOAR (1)

  1. Kalo lagi galaumah jangan sekali-kali nonton tipi.
    udah taukan program Tipi sekarang pada amburadul.
    Makin setress lah kau nak.

    Btw, Jaman sekarang orang-orang kok pada sedih ya liat orang lain ngejomblo ?
    padahal jomblo kan mulia terhindar dari dosa 🙂

    Kalo makan di restoran cepat saji obrolanya terasa cepat juga tidak ?
    memang makan di Warteg is the best lah !

    Suka

  2. Pandangan seseorang tentang wanita emang beda-beda mas, ya ada yang lebih menyukai fisik tanpa peduli gimana hatinya. Sepertinya kamu lebih ingin memenangkan satu hati perempuan dibandingkan berganti-ganti pasangan ya mas.

    Memang sih masa muda itu kebanyakan orang dihabiskan untuk senang-senang, kalau aku juga lebih baik punya satu wanita daripada ganti-ganti yang gak jelas mau dibawa kemana.

    Suka

  3. memang sih klo jomblo itu sering dikatain “nggk laku” (ku pernah #curhat) tapi kan klo begitu kita juga terhindar dari dosa…….hehehe

    btw…….aku juga bukan org yg suka makan direstoran mewah, aku juga berfikir klo makan disana itu identik dgn pemborosan, jadi kita sama *toss*

    Suka

  4. Itu namanya cinta sejati sih menurut ku..
    Tidak hanya sola penampilan fisik saja, tapi bagaimana perilaku dan cara berpikirnya yang bisa buat kita merasa nyaman di dekatnya.

    Gan, soal potongan-potongan kertas itu, oh my, it’s so romantic!

    Gue dukung usaha nya biar sukses mendpatkan hati sang pujaan :”

    Suka

  5. Memendam perasaan itu emang gak enak. Aku juga dulu pernah punya rasa sama seseorang dan sampai sekarang aku gak pernah berani untuk mengungkapkannya hingga kini dia jatuh ke pelukan orang lain. #kokmalahcurhat. 😀

    Suka

  6. Terlepas dari komentarnya Bima diatas, yang berpendapat. ‘Itu cinta sejati.’ Saya kira, kau harus mengutarakan perasaanmu bang. Bukan karena yakin, entah diterima atau tidak, entah itu cinta sejati mu atau bukan, yang terpenting adalah kau tidak berbohong terhadap perasaanmu sendiri.
    Titik balik untuk menemukan keberanianmu itu saya kira lebih urgent bang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s