Penghuni Tangga

Katakan, apakah aku harus menjadi penghuni tangga untuk bisa selalu bertemu denganmu yang pernah kupuja? Jika harus seperti itu, pastikan kau mengenakan senyum teramahmu. Aku takkan memberimu gombalan kecil atau rayuan yang  nakal. Karena faktanya, aku tak pernah menganggap dan memandangmu secara ‘dangkal’. Aku sudah cukup bahagia dengan pertemuan kita walau kita tak bertegur sapa.…

Laras

Laras, ada banyak alasan mengapa kau masih saja menetap dalam ingatan. Aku tahu, menempatkanmu dalam tulisanku adalah salah satu hal yang kau larang sejak dulu. Kau tak suka dilibatkan dalam hal-hal yang akan kupublikasikan. Kau lebih suka jika aku menyimpanmu dalam kepalaku; dalam ruangan yang dindingnya bertuliskan namamu. Tetapi, untuk kali ini, izinkan aku tak…

Teh atau Kopi?

Selamat datang. Setelah sekian lama kau memuja hilang, kini kau kembali menempatkanku sebagai tujuan pulang. Katakan padaku, apa yang harus kubuat untuk kepulanganmu hari ini? Teh atau kopi? Aku takut kepulanganmu kali ini telah membuatmu tak lagi paham arti menghampiri. Walau senyummu masih sama, aku tak lagi bisa menerka apa saja yang kau dapatkan di tempat nan jauh di…

RENUNG JALAN: Kakek Pengetuk Rasa

Semesta selalu punya cara untuk mengetuk pintu ‘rasa’. Beberapa hari lalu, aku mengantar Ibu dengan sepeda motorku. Seperti biasa, aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah. Aku tidak terlalu lihai dalam mengendarai sepeda motor dan kendaraan lainnya. Bahkan, aku tak berani untuk belajar mengendarai dengan lihai; mengendarai seperti anak-anak muda yang sering mengebut dan menganggap dirinya adalah…