RENUNG JALAN: Kakek Pengetuk Rasa

Semesta selalu punya cara untuk mengetuk pintu ‘rasa’.

Beberapa hari lalu, aku mengantar Ibu dengan sepeda motorku. Seperti biasa, aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah. Aku tidak terlalu lihai dalam mengendarai sepeda motor dan kendaraan lainnya. Bahkan, aku tak berani untuk belajar mengendarai dengan lihai; mengendarai seperti anak-anak muda yang sering mengebut dan menganggap dirinya adalah raja jalanan.

Selain karena punya sedikit masalah dengan penglihatan, aku selalu berkendara dengan pelan untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Menurutku, mengantar Ibu untuk berbelanja dan mengurus beberapa tagihan adalah hal yang menyebalkan.

Bagaimana tidak?

Ketika Ibu ingin membeli sesuatu, maka aku harus menunggu. Entah mengapa, aku seperti tak diberikan bakat untuk menunggu. Aku selalu merasa dikejar oleh waktu; diikuti oleh bunyi detik yang siap untuk melahapku. Menunggu adalah kegiatan yang meresahkanku. Kuakui, rasa sabar yang bersarang padaku memang seringkali tak tahu malu. Ia tak bisa menahan tekanan dari sebuah tugas bernama ‘skripsi’ yang harus secepatnya kurevisi.

Ya. Kukira, menjadi mahasiswa tingkat akhir adalah hal yang mengagumkan. Faktanya, kini yang ada di pikiranku adalah mengatur waktu untuk menyeimbangkan kegiatan. Tingkat akhir cukup menyeramkan. Terlebih jika kita tak kuat untuk beraktivitas dalam tekanan.

Setelah Ibu selesai mengurus semua keperluannya, aku dan Ibu segera pulang. Barang belanjaan kugantungkan. Jam di layar ponsel menunjukkan pukul delapan malam. Aku pasti mengantuk saat mengerjakan tugas, pikirku.

Kukendarai sepeda motor dengan tatapan nanar. Seakan-akan, aku sudah bisa memprediksi situasi di jalan dengan benar.

Tak berapa lama, di sisi kiri jalan, kulihat seorang pengendara sepeda terjatuh karena menabrak trotoar. Ibu kaget. Aku juga kaget. Bodohnya, aku pura-pura tak melihat. Aku membiarkan sepeda motorku berjalan melewatinya. Perasaanku memang hampir mati. Aku berpura-pura menganggap tidak ada hal apapun yang terjadi.

Aku punya semacam ketakutan terhadap ‘kecelakaan’. Aku beberapa kali melihat kecelakaan di jalan, tetapi aku sama sekali tidak membantu korban kecelakaan. Aku hanya akan melewatinya, sembari berharap ada orang lain yang menyelamatkan korban. Jika kau ingin tahu alasan mengapa aku sangat takut ketika ada kecelakaan, aku tak akan memberitahu. Ada sebuah kejadian yang sampai sekarang merusak nalarku.

Namun, kali ini berbeda. Walaupun aku sudah berpura-pura tidak melihatnya—pengendara sepeda yang terjatuh—aku akhirnya menepikan sepeda motorku. Semua karena Ibu. Ibu menepuk pundakku, memintaku untuk berhenti dan menolong pengendara sepeda itu.

Pengendara sepeda itu adalah seorang Kakek. Entah berapa umurnya. Aku melihat tubuhnya bergetar dan pandangannya masih kosong. Sepertinya, ia kaget karena terjatuh.

Ibu membantu si Kakek berdiri. Sementara aku meminggirkan sepedanya.

Lalu Ibu berbicara dengan si Kakek, mencoba memastikan keadaannya. Sedangkan aku, hanya terdiam sembari mendengarkan mereka. Aku masih bingung apa yang harus kulakukan.

“Saya naik sepeda untuk beli makanan. Sebenarnya saya punya dua anak. Tapi dua-duanya tidak mau mengurus saya.” Kata si Kakek.

Aku tersentak. Sebelum si Kakek bercerita mengenai kondisi keluarganya, aku sempat bertanya dalam hati, apa yang diinginkan si Kakek sampai mengendarai sepeda malam-malam begini? Harusnya ia beristirahat di rumah. Menikmati masa tuanya. Menonton tayangan di televisi atau bercanda bersama cucunya.

Ternyata, ia terpaksa mengendarai sepeda karena ia harus membeli makanan untuk dirinya ‘sendiri’.

“Istrinya di mana, Kek?” Tanya Ibu padanya.

“Istri saya baru saja meninggal. Belum lama.” Jawab si Kakek.

“Oh, begitu. Rumah Kakek di mana?” Tanya Ibu lagi.

Setelah pertanyaan itu, si Kakek memberitahu rumahnya yang (jujur saja) cukup jauh. Bahkan untukku yang mengendarai sepeda motor. Mengapa untuk mencari makanan saja ia pergi jauh dari rumahnya?

Apa kau kasihan? Bayangkan bagaimana aku harus menahan sedihku ketika melihat pemandangan seperti itu. Kau harus paham bahwa aku telah sekuat tenaga menahan sesak di dada.

Setelah beberapa pertanyaan lainnya, aku dan Ibu meninggalkan si Kakek. Kami merasa si Kakek sudah cukup ‘sadar’ untuk mengayuh sepedanya kembali. Sesaat sebelum itu, ia berterimakasih. Ibu tersenyum padanya. Aku sangat bisa melihat ketulusan yang tercipta di wajah Ibu dan si Kakek. Ternyata, ‘kasih’ itu seperti ini. Saling membantu dan menghargai apa yang terjadi.

Sesampainya di rumah, ada pikiran baru yang bersarang dalam kepalaku.

Pertama, aku bangga pada Ibu. Ia tanpa ragu menghampiri seseorang untuk membantu. Kini aku malu pada diriku. Entah sudah berapa kali aku mengabaikan orang-orang yang membutuhkan bantuanku.

Kedua, aku sadar bahwa semesta selalu punya cara untuk mengetuk pintu ‘rasa’. Sebelum bertemu si Kakek, aku sedang terjebak dalam tekananku. Aku tak menghargai waktu yang kupunya bersama Ibu; tak menghargai kebersamaan yang terus terjadi seiring waktu.

Si Kakek menyadarkanku bahwa keluarga adalah hal yang utama. Mereka yang bersatu atas nama ‘keluarga’, sudah pasti harus saling membantu; bahu-membahu untuk mencapai sesuatu. Aku tak bisa membayangkan jika ketika tua nanti menjadi seperti si Kakek. Hidup sendiri tanpa anak dan istrinya. Menghabiskan masa tua tanpa mereka yang telah bersamanya mengukir cerita.

Ah, setiap aku menulis mengenai ‘keluarga’, aku pasti melibatkan lebih banyak ‘rasa’. Setidaknya, ketika menulis ini, aku sadar bahwa perasaanku belum sepenuhnya mati. Aku masih punya perasaan—yang masih harus kukembangkan seiring semesta berjalan.

Manusia seringkali lupa bahwa ia hidup untuk membantu sesama. Mereka terus terjebak dalam kebahagiaannya; larut dalam tawa dan harta yang mereka puja.

Semesta, tolong jangan pernah berhenti untuk mengetuk pintu rasa.

————————————————————————

RENUNG JALAN akan memuat kisahku ketika sedang melakukan perjalan atau (setidaknya) kisah yang kutulis dalam perjalanan. Aku percaya bahwa ada banyak makna yang bisa dipetik dari sebuah perjalanan. Dan menulisnya, adalah caraku untuk mengingatnya.

 

Iklan

8 pemikiran pada “RENUNG JALAN: Kakek Pengetuk Rasa

  1. Kegiatan yang sama aku lakukan ketika mengantar ibu berbelanja yaitu menunggu dicampuri rasa bosan, kasihan sekali kakek itu masih punya anak tapi tidak ada yang mau merawatnya.

    memang kasih anak tidak bisa membalas kasih sayang orang tua kepada anak, apalagi kalau sudah punya keluarga kebanyakan melupakan orang tua tyang sudah membesarkannya.

    masih bersyukur punya keluarga yang baik dan sayang kepada kita ya mas.

    Suka

  2. Kok aku sedih ya baca kisah ini?
    kasihan si kakek harus cari makan sendiri dan kenapa anaknya nggak mau ngurusin 😦

    Semoga kita selalu ingat akan orang tua kita ya, dan alhamdulillah km patut bersyukur punya ibu yg baik

    Suka

  3. Jadi penasaran kenapa si kakek beli makanan jauh-jauh, apalagi juga udah tua, masa anaknya gak ada yg bisa membantu sama sekali. Semoga kakek itu terus diberi ketabahan sama yg Maha Kuasa deh..

    Suka

  4. Aaaaak…
    Perjalanan memang banyak memberikan pelajaran. Aku juga banyak mendapatkan pelajaran di jalan. semesta mengetuk rasa, Suka sekalian dengan kata kata ini. seringkali kita dibantu oleh orang lain saat berada di jalan, padahal kita gak kenal atau semacamnya,dan aku merasa masih banyak orang lain di dunia ini. Salah satunya ibumu. Meski hanya membantu berdiri dan menanyakan keadaannya. Bayangkan perasaan si kakek itu. Ternyata dia bertemu dengan orang baik yang masih memperhatikannya.

    Iyah, keluarga adalah tempat kita kembali. Semoga kita menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

    Suka

  5. Bagus banget ceritanya. Jaman sekarang, biasanya orang cenderung cuek. Kalo liat ada orang kecelakaan di jalan, belom tentu bakal ditolongin, takut kebawa repot. Tapi ya seperti kata pepatah, Tuhan itu adil. Kebaikan yg kita lakukan pasti akan dibalas dengan kebaikan lagi. Seperti kebaikan yang kamu dapatkan ketika menolong sang Kakek =)

    Suka

  6. Terkadang serba salah kalau mau nolongin orang kecelakaan. Niatnya nolongin malah disangka yang nyelakain. Tp kalau aku pribadi sih pasti berusaha langsung nolongin, pengalaman pernah jatuh dan banyak yang nolongin jadi tau rasanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s