Laras

Laras, ada banyak alasan mengapa kau masih saja menetap dalam ingatan.

Aku tahu, menempatkanmu dalam tulisanku adalah salah satu hal yang kau larang sejak dulu. Kau tak suka dilibatkan dalam hal-hal yang akan kupublikasikan. Kau lebih suka jika aku menyimpanmu dalam kepalaku; dalam ruangan yang dindingnya bertuliskan namamu. Tetapi, untuk kali ini, izinkan aku tak lagi sendiri ketika mengenangmu.

Dulu, saat bahu kita tak sengaja bertabrakan, kau menatapku sembari memberikan uluran tangan. Entah, di balik kacamatamu, ada sesuatu yang membias pesonamu. Lalu, kita saling tertawa; mencairkan suasana yang entah bagaimana akhirnya.

Laras, apa kau ingat yang terjadi setelah itu?

Tak butuh waktu lama hingga kita mulai membangun makna. Kita membawa diri ke sebuah taman kota; tempat di mana kita melepas penat yang semakin memutarbalik semesta. Di kursi taman yang menjadi tempat kita duduk, kita menjadi dua manusia yang bersatu di bentangan ufuk.

Lalu, dengan mudahnya, aku menceritakan impianku yang gila. Tentang bagaimana langkahku dalam menaklukkan dunia; tentang bagaimana pandanganku dalam membenci ketidakadilan yang ada. Sedangkan kau, bercerita tentang sebuah penyakit bernama hepatalgia. Aku tak tertarik pada nama-nama penyakit, tetapi aku peduli pada bagaimana caramu menceritakan pahit.

Kau menyuntikkan beberapa pemikiran baru ke dalam kepalaku. Layaknya bom waktu, kau meledakkan semua hal yang berkaitan dengan sifat kekanak-kanakanku. Ada satu ceritamu yang tak pernah kulupa. Kau bercerita mengenai akan jadi apa kita di masa tua. Ingin menjadi musisi, kataku. Ingin jadi penulis, katamu.

Tak ada yang salah dengan cita-cita kita, yang terpenting adalah prosesnya. Itu yang kau katakan saat kita mulai tertawa dan tak lagi peduli pada indahnya senja. Tak lama, kepalamu bersandar di pundakku dan aku memutuskan untuk jatuh dalam genggamanmu.

Presentation12.jpg

Laras, banyak hal yang telah terjadi padaku.

Kau benar, kelak, aku akan keluar dari zona nyamanku dan membuat zona tidak nyaman menjadi zona nyaman terbaikku. Aku pernah menjadi pemimpin organisasi, Laras. Aku juga tak lagi terlalu berharap menjadi musisi. Seperti apa katamu, kelak, aku akan menyerah karena ada hal lain yang lebih pantas untukku.

Entah mengapa, aku jadi senang menulis sepertimu. Ternyata, untukku, menulis juga menjadi cara terbaik dalam melepaskan duka dan mengukir cerita. Ah, aku jadi ingin tahu apa saja yang telah kau tulis selama beberapa tahun ini. Jika ada waktu, maukah kau meminjamkanku buku rahasia yang berisi semua tulisanmu?

Laras, terima kasih telah mengetuk dinding nalarku ketika aku sedang tak tahu apa yang kutuju. Kini aku benci sekaligus rindu. Karena semua yang kau katakan dan kusangkal dulu, kini mengalir deras dalam urat nadiku.

Laras, di hari ketika kau mengatakan padaku bahwa kau ingin pulang, harusnya aku tak mengizinkanmu saja saat itu. Tetapi, aku tak pernah bisa menemukan alasan untuk melarangmu. Kedua bola matamu tak pernah membuatku ragu akan semua keputusanmu.

Hanya saja, saat itu berbeda, Laras.

Aku tak tahu bahwa setelah kita saling mengucap, “Sampai jumpa”, aku akan pulang ke Jakarta dan kau akan pulang ke surga.

Laras, tenanglah dalam balutan semesta. Kudoakan bahagiamu di sana; di tempat yang tak pernah spesifik berada di mana.

Jangan marah, Laras. Jangan marah karena setelah sekian lama, aku baru menulis namamu dalam tulisan yang akan kubagikan pada dunia. Tetapi, jika kau marah, silakan datang ke mimpiku. Akan kusambut kau dan kutuntaskan semua rinduku.

Laras, apakah kini kau sedang melihatku? Buatlah aku merasakan hadirmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s