Penghuni Tangga

Katakan, apakah aku harus menjadi penghuni tangga untuk bisa selalu bertemu denganmu yang pernah kupuja?

Jika harus seperti itu, pastikan kau mengenakan senyum teramahmu. Aku takkan memberimu gombalan kecil atau rayuan yang  nakal. Karena faktanya, aku tak pernah menganggap dan memandangmu secara ‘dangkal’.

Aku sudah cukup bahagia dengan pertemuan kita walau kita tak bertegur sapa. Kini aku sadar bahwa ‘rasa’ tak harus selalu bangkit karena adanya kontak mata. Lagipula, aku yakin bahwa matamu masih seperti kristal; membias makna akan ‘rasa’ yang kian terpental.

Maka, katakan saja, berapa banyak hari yang akan kulalui kali ini dengan bayangmu yang kembali menepi? Atau, berapa banyak malam yang akan kuhabiskan kali ini bersama sosokmu yang menghantui?

ii

Ah, sial. Kau mengubah kontemplasi rasa menjadi konsistensi rasa.

Katakan, perempuan mempesona! Katakan sekarang juga!

Haruskah aku mendorongmu saja ketika kita kembali bertemu di anak tangga?

Ah, untukmu, aku takkan tega. Setelah sekian lama aku berusaha sembuh dari luka yang kau tanam, kau masih saja menjadi perempuan yang kuidamkan.

Maaf, aku terlalu bodoh untuk berpindah. Akan kulalui beberapa hari bersama bayangmu yang kembali singgah.

 

Tertanda,

lelaki yang tak punya banyak harta dan telah gagal membuatmu bahagia.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s