Bulan Ramadhan dan Kau

Ingatanku melayang pada tahun 2012; tahun di mana bulan Ramadhan punya arti khusus untukku. Saat itu, aku harus berusaha untuk terus mengingat beberapa hal; waktu sahur, ucapan berbuka puasa, hingga pertanyaan seperti “kau sudah makan atau belum?” Karena pertanyaan seperti itu selalu terlontar secara tiba-tiba; mengarah padamu yang jelas-jelas sedang berpuasa. Aku memang tidak menjalankan…

Tulisan Sangat Singkat: 2806

Akhir-akhir ini, ungkapan “Yang fana adalah waktu, kita abadi,” dari Om Sapardi terdengar klise. Karena sesungguhnya, hanya kau yang abadi dalam larik puisi. Sedangkan aku, terbakar habis di sayap mentari. — Dionisius Dexon

Aku, Bentangan Kilometer, dan Sakit Kepala

Sungguh, perjalanan ini terlalu manis untuk dilewatkan. Walau hanya diisi oleh debu jalanan, kekhawatiran akan habisnya bahan bakar, hingga sakit kepala yang tak kunjung reda, perjalanan ini masih terasa manis. Karena ketika lelahku mulai memasuki lubang duka, wajahmu terlintas dalam kepala; menggores kembali ruang kosong yang sudah lama tak kuketahui kondisinya. Perjalanan ini mungkin tak…

Kita adalah Awal

[ Februari 2012 ] Aku tengah terbakar matahari ketika sosokmu datang menghampiri. Kau menatapku dalam, layaknya seseorang yang tengah menerka hati orang lain dalam diam. Jika kau ingin tahu, aku benci tatapanmu. Jangan tatap aku. Gunakan matamu yang indah itu untuk menerka keistimewaan duniamu. Aku hanya seorang lelaki berparas buruk; lelaki yang tak mengerti akan…

Mata yang Berbicara

[ Maret 2012 ] Kucari dirimu di kala senja sedang menukik tajam. Entah mengapa, ada satu hasrat untuk menemuimu dalam diam. Kepalaku sudah beberapa kali kutepuk dengan telapak tanganku, namun bayangmu tetap menghantui hari-hariku. Jika ini yang disebut dengan ‘cinta’, mengapa aku merasa sangat tersiksa? Kudengar, ketika manusia jatuh cinta, mereka akan merasakan bahagia yang…

Makhluk Penawar Pahit

[ April 2017 ] Pernahkah kau merasa bahwa ‘pahit’ adalah teman baik di kala sulit? Perlahan, kau mulai paham bahwa semesta adalah latar hidup yang kejam. Kau berulang kali disakiti; berulang kali dikhianati; berulang kali dipaksa untuk menghujam jantungmu sendiri. Bukankah menurut para pujangga, hidup ini indah? Jika benar, mengapa kau—dan aku—harus selalu terjun dalam…