Aku, Bentangan Kilometer, dan Sakit Kepala

Sungguh, perjalanan ini terlalu manis untuk dilewatkan. Walau hanya diisi oleh debu jalanan, kekhawatiran akan habisnya bahan bakar, hingga sakit kepala yang tak kunjung reda, perjalanan ini masih terasa manis.

Karena ketika lelahku mulai memasuki lubang duka, wajahmu terlintas dalam kepala; menggores kembali ruang kosong yang sudah lama tak kuketahui kondisinya.

Perjalanan ini mungkin tak pernah berakhir; tak pernah menemui titik balik yang mutakhir.

Maka, maukah kau ikut bersamaku?
Cukup duduk saja dan kenakan senyum termanismu. Biar tenagaku yang membawamu menjelajahi daratan rindu. Bahkan, aku bisa mengajakmu melintasi laut jika kau mau. Entah mengapa, segala hal menjadi ‘sangat mungkin’ ketika rinduku padamu tengah bermukim.

Ikutlah bersamaku. Siapa tahu, ini menjadi perjalananku—atau perjalanan kita—yang terakhir.
Karena sejatinya, segala bentuk perjalanan manusia hanya akan berakhir pada satu tempat: pemakaman.

Dan aku ingin kau menjadi senyum terakhir yang kulihat, sebelum sinar Sang Pencipta menuntunku ke sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s