Ceracau Awan

Beberapa tangan diciptakan untuk tidak saling menggenggam. Bahkan, ada beberapa tangan yang diciptakan untuk saling menikam.

Langit sedang dipenuhi keraguan ketika kau dan aku memutuskan untuk terlibat dalam perbincangan. Sudah lama tak bertemu, katamu. Sudah lama tak terganggu, kataku. Pertemanan kita memang unik. Keakraban kita terbangun seiring rasa yang kerap menyajikan rintik. Sejak pertama kali kita saling menyebut nama, kita menjadi dua manusia dengan kerapuhan yang sama.

Setelah beberapa bulan tak bersua, kita sepakat untuk bertemu di sebuah kafe tak ternama; tempat yang menjadi saksi bagaimana kisah-kisahku sebelum ini kehilangan makna. Kau datang mengenakan kaus hitam yang berbalut duka. Aku datang dengan sepatu yang selalu kupakai merangkaki dinding buta.

Dua cangkir kopi disuguhkan; puluhan cerita termuntahkan.

Kau tahu bahwa aku takkan banyak bersuara ketika kau bercerita. Aku tahu bahwa percuma saja menasihati orang yang sedang bertahan pada luka. Kalimat-kalimat bijak takkan membantu; cerita-cerita bahagia takkan berhasil menjadi guru. Karena ketika rasamu meragu, tak ada satupun yang bisa memengaruhimu.

Lantas, bagaimana kau menggambarkan kondisimu? Sedang serupa dengan awan hitam, katamu.

Ah, jawabanmu terlalu klise. Jika kau adalah awan, maka aku adalah danau yang menampung hujanmu; aku membiarkan diriku dipenuhi kesah; menjadi tempat sampahmu dalam berbagai masalah. Hingga suatu saat nanti, aku meluap; membanjiri dunia dengan beberapa kisahmu yang tak mampu lagi kudekap.

Hatimu dibuat batuk oleh lelaki yang berjanji untuk menemanimu di bentangan ufuk. Hatiku dibawa pergi oleh perempuan yang sangat lihai menghunus tulang rusuk. Jika sudah begini, siapa yang akan kita salahkan? Kau dan aku hanya hidup dalam penyangkalan.

1496561894920s

Foto diambil oleh Muhammad Edo Fadhli (@edo_17)

Sudah satu bulan ini apa yang tertanam dalam rongga dadamu dikremasi. Sudah empat tahun ini ruang dalam dadaku hanya menjadi tempat persinggahan sepi. Kelak, ketika seseorang bertanya siapa yang paling ahli mengurus hati secara mandiri, kau akan temukan aku yang dengan gagah berdiri.

Tetapi, walau sudah begini, apakah yang terjadi pada hatimu mendadak menjadi tidak berarti?

Setiap manusia punya rasa; setiap duka punya cerita. Tak ada ukuran mengenai duka; tak ada perbandingan mengenai luka. Bukankah hatimu hanya bisa dirasakan olehmu? Maka, aku takkan menghakimi. Biar saja dirimu yang mengolahnya menjadi bentuk pengembangan diri.

Aku paham derita yang kau alami. Aku paham rasanya diajak ke pucak gunung tertinggi kemudian dijatuhkan ke dasar bumi. Aku paham rasanya diingkari; dikhianati sampai cermin kehilangan kemampuan untuk merefleksi diri. Aku paham rasanya ketika orang lain saling melengkapi, sedangkan aku berpikir untuk melubangi kepalaku sendiri.

Perlu berapa kali dipatahkan hingga hati kita layak untuk disandingkan?

Perlu berapa kali dikecewakan hingga akal kita layak untuk menghadapi kenyataan?

14965618971s78

Foto diambil oleh Muhammad Edo Fadhli (@edo_17)

Kita adalah manusia-manusia yang kelak akan bahagia—atau kembali menanggung duka yang sama. Tak ada yang bisa memastikan kebahagiaan. Bahagia atau tidaknya kita di masa depan, akan selalu menjadi rahasia Tuhan.

Biar saja patah-patahmu—dan patah-patahku—menjadi satu kesatuan; bagian dari kekuatan semesta yang disembunyikan dengan segan.

Matahari akan terbit kembali besok pagi; daun-daun akan tetap tumbuh; film-film baru akan tetap diproduksi; dan dunia akan tetap dipenuhi benci. Seperti halnya kita yang akan tetap berotasi; kembali hidup dengan khayalan fiksi; menjatuhkan diri pada sebuah hati; dan berharap untuk ditemukan untuk kesekian kali.

Maka, biarkan saja kita hancur kali ini. Jangan kau tahan lagi sendu yang menghampiri. Karena dalam duniamu yang suci, kau adalah pemegang kunci; penentu pintu yang akan kau buka dan kelak membawamu ke berbagai cerita tak bernama.

Menangislah. Jangan ragu untuk datang kembali walau logikamu musnah.

Karena sejauh apapun kau berlari dari duka, hanya aku yang bisa kau temukan dengan derita yang sama. Tenanglah. Sampai saatnya tiba, kita akan tetap seirama; tetap menjadi dua anak manusia yang tak percaya dengan komitmen antar manusia.

Kau dan aku; hampa.

— Dionisius Dexon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Ceracau Awan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s