Anhedonia (Bagian 1)

Selama beberapa minggu—atau bulan—terakhir ini, aku kehilangan ambisi; kehilangan bahagia yang selama ini bisa kudapatkan dengan cuma-cuma. Aku yang selalu menempatkan ‘menulis’ di media sosial sebagai cara menghibur diri sendiri, perlahan mulai kehilangan esensi.

Maka, aku ingin bercerita sedikit mengenai sebuah ‘jeda’. Siapa tahu, ada di antara kalian yang merasakan hal yang sama.

Sejak awal tahun 2017, aku meniatkan diri untuk konsisten menulis di Instagram karena berbagai macam alasan. Aku yang awalnya mencoba menulis jurnal (namun sekarang sudah gagal), berubah menjadi menulis tulisan-tulisan singkat, yang entah dapat disebut puisi atau hanya sebongkah pemikiran saja.

Lalu, perasaan aneh datang. Setelah berbulan-bulan mencoba konsisten, pikiranku mulai keruh. Ada semacam ‘hilang’ yang tak dapat kudefinisikan. Ada semacam ‘mual’ yang tak bisa kumuntahkan. Singkatnya, aku tak lagi senang ketika aku menulis dan berinteraksi dengan para pengguna di Instagram. Senangku telah berubah menjadi muak dan sejenisnya. Dan itu kurasakan selama berminggu-minggu.

Suatu hari, seorang temanku yang tinggal di Makassar, mengirim lagu milik grup musiknya melalui pesan Facebook. Ia ingin aku mendengarkan dan memberikan kritikan. Dari sekian banyak teman yang dulu berjuang bersamaku dalam dunia musik, ia satu-satunya yang—kutahu—masih bertahan.

Lagu yang ia kirim padaku berjudul ‘Anhedonia’ yang diciptakan oleh grup musiknya, Albert in Space. Ah, setelah kudengar, aku sangat suka lagunya. Tetapi, apa itu anhedonia?

Karena aku mudah penasaran, aku memanfaatkan Google untuk mencari tahu. Setelah kubaca beberapa ulasan, maka dapat kusimpulkan seperti ini: Anhedonia adalah situasi di mana seseorang tidak mampu lagi merasakan kesenangan saat melakukan hal-hal yang disukainya.

Menarik. Lalu, aku berpikir, apakah aku sedang mengalami anhedonia?

Mungkin aku terlalu yakin jika aku menyebut diriku terkena anhedonia. Agar tidak sok tahu, akan kusebut ini sebagai ‘jenuh’. Aku sedang berada dalam kejenuhan. Aku tak lagi tertawa ketika tulisanku dikomentari di dunia maya. Aku tak lagi berdebar ketika membalas satu persatu pesan yang berisi curahan perasaan. Ditambah lagi, pesan yang kutunggu-tunggu tak kunjung datang.

Dan yang paling parah, semua unggahan teman-temanku di dunia maya membuatku stress.

Setelah merasa kepalaku hampir terbelah, aku memantapkan diri untuk melakukan satu hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak beberapa minggu lalu: memberi jarak sejenak pada perbincangan dunia maya.

 

15242027_10202727284299788_7519633718491521442_n.jpg

Lantas, apa yang kulakukan?

Aku menghentikan aktivitas menulis dan memutuskan untuk tidak membalas pesan di Instagram. Kukeluarkan akunku tanpa peduli apa yang akan kulewatkan di sana. Saat tulisan ini ditulis, aku belum membuka kembali akun Instagram-ku.

Kuhilangkan obrolan di aplikasi chatting LINE. Kumatikan notifikasi, kutelan habis rasa canduku dalam melihat apa yang akan teman-temanku bagi.

Tetapi, memberi jarak bukan berarti menghilangkan. Mungkin apa yang kulakukan adalah ‘mengalihkan’. Aku mengubah kebiasaanku; mengatur ulang koneksi yang ada di sekitarku.

Aku tetap berkomunikasi—jika ada yang menghubungi—namun hanya melalui satu aplikasi chatting: WhatsApp. Aku tak lagi berharap pada komunikasi yang tanpa isi; komunikasi yang hanya ‘haha-hihi’ lalu berujung membicarakan orang lain.

Mengenai menulis, aku tetap menulis—harian—di Twitter, namun kali ini aku menulis dengan lebih bebas; tanpa harus memikirkan apa yang sebaiknya kutulis. Aku bahkan bisa meneruskan kembali cerita yang kutulis di Wattpad, mendesain ulang tampilan Blog, mencoba berinteraksi kembali dengan teman-teman Facebook (aku pernah berniat tidak menggunakan Facebook lagi tahun lalu).

Singkatnya, aku mencoba mengembalikan kegiatan menulisku sebagaimana aku melakukannya beberapa tahun lalu: tanpa diganggu. Kali ini aku merasa dapat menulis dengan lebih tenang.

Karena sejatinya menulis bukan tentang berapa banyak komentar yang diterima; bukan tentang berapa banyak orang lain memberikan tanda ‘suka’. Tetapi tentang bagaimana manusia mencoba mendamaikan isi kepala.

Lalu, apa lagi?

 – Akhir dari bagian pertama (bersambung ke bagian 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s