Anhedonia (Bagian 2)

Setelah mengurangi aktivitas ‘dunia maya’, aku terjun kembali dalam perbincangan dunia nyata. Aku bertemu dengan beberapa teman yang sudah beberapa tahun ini kuabaikan. Aku kembali menumpahkan pemikiran dengan bercerita lewat nada dan tatapan mata. Aku kembali mendengar tawa asli manusia, yang tak berupa ‘wkwkwk’ atau ‘LOL’.

Aku tak lagi memeriksa ponsel ketika temanku sedang berbicara—kecuali jika ada pesan atau panggilan masuk. Aku tak lagi memikirkan apa yang harus kubagikan di Instastories; tak lagi membayangkan komentar-komentar dunia maya yang mungkin akan kudapatkan.

Ternyata, kembali membicarakan grup musik dan lagu indie terbaru secara langsung, membahas masa lalu di hadapan ‘si masa lalu’, serta kembali mendengarkan lagu-lagu folk di kala sore datang bertamu adalah hal yang sangat menghidupkanku.

Aku kembali menyaksikan tayangan televisi. Aku menertawakan acara komedi, menggaruk dahi saat ada tayangan drama yang tidak kumengerti, dan menyayangkan berita-berita kesedihan yang sangat mengetuk hati.

Aku dapat kembali membaca buku fisik, menerka isinya, dan kembali menulis puisi-puisi dalam sebuah buku catatan rahasia.

Malam-malamku tak lagi berisi keresahan karena melihat seseorang yang kuidamkan baru saja mengunggah foto mesranya; tak lagi menunggu apakah ia akan menghubungiku dan seketika aku akan bahagia. Terkadang, berharap segala sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan kita hanya akan menimbulkan luka.

Malamku adalah tentang ketenangan; istirahat setelah satu hari membuang tenaga. Aku  mengunci pintu kamar lalu berdoa. Atau ketika aku belum mengantuk, aku akan menulis beberapa kata dan membalas pesan dari mereka yang mengucapkan selamat malam. Bukan melalui media sosial, tetapi melalui pesan yang dikirimkan secara personal. Kadang, aku bertanding mengirim foto ‘muka jelek’ agar seseorang yang sedang resah di seberang sana merasa lebih baik. Sebuah hal sederhana yang kulakukan untuk menjaga hubungan manusia.

ssdsdasada

Setelah beberapa hal yang kulakukan di atas, aku merasa kembali. Kembali pada saat di mana ponsel bukan menjadi barang yang harus ditatap setiap saat; bukan menjadi tempat di mana hal-hal yang kita lalui harus saat itu juga dipamerkan. Aku mendapatkan kembali aktivitas-aktivitas yang selama ini kutukar dengan hanya memandangi ponsel; keintiman yang selama ini hilang dari dekapan.

Ponsel kembali pada fungsi utamanya: sebagai alat untuk berkomunikasi.

Aku tak lagi terpacu untuk memamerkan hidupku seiring waktu. Tak lagi harus merasa ‘cemburu’ pada teman-temanku yang memamerkan perjalannya. Tak lagi mengisi kepalaku dengan anggapan dan prediksi negatif yang sering sekali disampaikan secara tersirat di dunia maya.

Apa yang kulakukan di dunia maya hanya datang, tulis, dan tinggalkan. Aku tak lagi berlama-lama mengecek aktivitas teman-temanku, tak lagi mengagumi artis-artis yang menampilkan foto-foto kekayaan. Bagian paling hebatnya: aku tak lagi menunggu pesan dari seseorang yang kucinta.

Aku mengembalikan diriku ke dunia yang menjadi prioritasku: dunia nyata.

Karena sehebat apapun dunia maya, tetap saja maya. Walaupun di dunia maya kau punya banyak teman, punya banyak penggemar, punya banyak penyuka, tetap takkan berarti jika di dunia nyata kau tak bisa membangun interaksi antar manusia.

Bukankah kita sudah terbalik? Menukar kesenangan-kesenangan di dunia nyata dengan hal-hal fana dunia maya.

Aku suka dunia maya, aku suka perbincangan media sosial, aku suka menempatkan sebagian ‘karya’ dan diberikan komentar ‘aku suka’. Tetapi, ternyata yang kubutuhkan hanya sebagian kecil saja. Tetap tidak ada yang mampu mengalahkan perbincangan di dunia nyata.

Ah, sebelum aku melantur lebih jauh, izinkan aku kembali membahas mengenai anhedonia.

Entah apakah yang kualami ini adalah anhedonia atau hanya sekedar jenuh. Tetapi, siapapun kau, jika tiba hari di mana kau merasa stress, tak lagi mampu berpikir jernih, atau hanya ingin mengumpat ketika berada di dunia maya, kusarankan untuk tinggalkan aktivitas maya-mu sejenak. Setiap orang butuh istirahat. Setiap orang butuh rehat. Terlepas dari hal apapun itu.

Jika kau suka menulis sepertiku dan tiba-tiba merasa tak lagi bahagia saat menulis, mungkin saja kepalamu sedang dipaksa. Tinggalkan aktivitas menulismu sejenak. Atau, pindahkan tulisanmu ke tempat lain. Tak semua tulisan harus dilihat orang lain. Ada kalanya, beberapa tulisan hanya disimpan dalam catatan rahasia—yang kelak akan kau buka tanpa perlu diberi komentar oleh siapa-siapa.

Sesekali, kita—generasi yang selalu menunduk dan berputar dalam kebahagiaan dunia maya—perlu melihat bahwa dunia nyata sudah jauh lebih indah dari terakhir kali kita meninggalkannya.

Aku tak tahu apakah setelah tulisan ini ditulis, aku akan kembali heboh menggunakan berbagai media sosial atau kembali larut pada biasnya dunia maya. Bagaimanapun aku nantinya, semoga tulisan ini menjadi tanda bahwa hal-hal yang kita sebut ‘bahagia’ tetap saja butuh jeda. Dan dunia ini indah jika kita mampu menyisihkan kemewahan kita, dan kembali pada hal-hal sederhana, seperti tatapan dua anak manusia.

– Dionisius Dexon

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s