DESIR KAPAL: Kita dan Bahasa

Dengan caramu, kau memintaku untuk mengajarimu. Adalah bahasa inggris yang membuatmu datang dengan manis. Adalah rasaku yang membuatku mengangguk dan setuju. Mengapa dari sekian banyak lelaki yang bisa mengajarimu, kau memutuskan untuk memilihku? Pertanyaan itu tak pernah terjawab walau aku sudah berulang kali menatap matamu. Entah mengapa, selalu ada awan gelap yang menjaga bola matamu—yang kelak membuat hujan dan menggariskan pelangi di antara tarikan senyummu.

Aku sempat bertanya dalam kepala: siapa yang tidak jatuh cinta pada caramu memandang anak manusia?

Lalu, sesuai permintaanmu, aku datang sebagai tamu. Dengan tumpukan buku yang tertulis namamu di lembar pertama, aku menyambut senja yang kian merona. Untuk pertama kalinya, senja menjadi pelengkap nada dari merdunya nyanyian tawa; rapatnya ketukan asa. Mungkin ini yang membuat senja abadi di tangan para pujangga.

Di balik diriku yang mencoba menjadi ‘guru’, ada yang aneh saat kau tertawa bersamaku. Karena tawamu, aku tak bisa menggambarkan siapa ‘kita’ dalam duniamu. Di kutub nalarku, kau dan aku telah melebur; menjadi dua manusia dengan warna yang sama.

Aku suka ketika kau kesulitan mengucapkan “can’t” dan “can”. Aku suka ketika kau bertanya apa  arti  dari “apple of my eye”. Aku senang ketika aku mencoba menahan tawa karena kebiasaanmu mengeluarkan lidah selagi bicara. Bahkan, aku hampir gila ketika kau menggembungkan pipimu tanpa sengaja. Kau punya banyak hal manis yang tak kau ketahui; hal lucu yang mampu membuat rinduku bersembunyi.

Kita yang awalnya hanya mempelajari bahasa, mulai saling bercerita. Kau bercerita tentang bagaimana kekasihmu mencoba menghilangkanmu. Aku bercerita tentang payahnya kemampuan bermusikku. Ceritamu selalu menarik perhatian telingaku. Dan entah mengapa, kali ini kutemukan seseorang yang mau mendengarkan kebodohanku.

Seketika, mulut kita berhenti bicara. Mata kita saling menerka. Hening mulai menyelinap di antara suara. Kau menggenggam tanganku dengan perlahan. Aku menjatuhkan rasaku padamu dalam ketenangan. Kita menemukan bahasa yang tak perlu diucapkan; bahasa bernama ‘keheningan’ yang diiringi oleh manisnya pelukan.

Pada senja itu, kau dan aku tak perlu lagi mempelajari bahasa. Karena rasaku dan rasamu telah sampai pada tujuannya. Tanpa perlu mementingkan bahasa; tanpa perlu berkata-kata.

— Dionisius Dexon

 


 

‘Desir Kapal’ adalah kumpulan kisahku yang terjadi pada tahun 2011-2013, yang dituliskan dalam bentuk catatan perasaan. ‘Desir Kapal’ tidak disusun berdasarkan urutan waktu karena aku ingin bebas menulis kenangan yang kuingat lebih dulu. 

Silakan baca tulisan ‘Desir Kapal’ lainnya di sini: #DesirKapal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s