DESIR KAPAL: Prolog

Tepat tengah malam, seorang teman bertanya, mengapa aku tak pernah menceritakan kisah cintaku yang—tanpa kusangka—ia anggap istimewa?

Lalu kubilang padanya, kisah cinta macam apa? Kisah cinta yang mana?

Ternyata yang ia maksud adalah kisahku dulu; cerita tentang bagaimana pergolakan masa muda dengan hebat membawaku. Setelah aku paham maksudnya, ia mulai menceritakan apa yang dulu ia kagumi, perihal rasa; perihal dua anak manusia.

Ia mengingatkanku pada banyak hal yang sudah kutimbun dengan tebal; membuka kembali ruang lama yang dulu sempat terisi luka yang dikremasi bahagia. Seiring dengan senyum yang terlukis di wajahku, aku mulai menerka kembali masa laluku.

Seketika, aku berpikir, apa kutuliskan saja kisahku dulu? Karena beberapa tahun lagi, aku bisa saja tak lagi mengingat kisah itu. Karena beberapa tahun lagi, temanku bisa saja tak lagi mengingatkanku. Kuakui, aku pernah punya kisah yang—dapat kukatakan—manis, walau di dalamnya tersimpan banyak sekali tangis yang kupendam diam-diam dengan bengis.

Lantas, bagaimana caraku untuk menceritakannya? Haruskah aku menulisnya dalam bentuk cerita bersambung? Haruskah aku menulisnya dengan menggunakan tokoh baru yang memanifestasikan aku dan dia?

Karena sudah beberapa hari ini aku sibuk bertanya-tanya, kurasa, aku akan menulisnya dengan cara ternyamanku: menulis dalam bentuk tulisan pendek dengan tokoh ‘aku’.

Maka, lewat ‘Desir Kapal’, aku akan mencoba menuliskan kisah masa laluku; pergolakan masa muda yang terjadi antara tahun 2011 sampai 2013 dalam bentuk catatan perasaan, seperti yang biasa kutulis di berbagai media sosial. Sekedar memberi gambaran, selama beberapa tahun itu hidupku tak hanya dihabiskan dengan mengurus cinta-cintaan. Ada tiga hal besar yang memenuhi pikiranku: cinta, musik, dan keluarga. Bahkan, dalam beberapa tahun itu, aku adalah manusia yang lebih mementingkan bermusik daripada belajar. Ditambah lagi, tak hanya satu perempuan yang terlibat di dalamnya. Tetapi, anggap saja perempuan yang akan kuceritakan dalam ‘Desir Kapal’ ini adalah perempuan yang sama.

‘Desir Kapal’ akan kutulis secara acak; tidak kutulis berdasarkan urutan waktu. Semoga siapapun yang membacanya bisa mengerti dan membayangkan sendiri bagaimana urutan kejadiannya. Tidak, aku tidak bermaksud untuk mempersulit siapapun yang ingin membaca. Aku hanya ingin sejujur mungkin menulisnya, tanpa berusaha keras mengingat kapan ‘waktunya sebenarnya’.

Aku ingin menulisnya sesuai dengan momen yang kuingat. Dan ingatanku tak pernah mengenal garis waktu. Ia dapat menghadirkan kenangan kelam dan manis tanpa sepengetahuanku; mengantarkan cerita tentang genggam dan tangis tanpa paksaanku.

Maka, selamat menikmati saja. Selamat terjun dalam ‘Desir Kapal’.

Oh, ya, mengapa namanya ‘Desir Kapal’? Tak perlu kujawab karena kau akan mengetahui sendiri jawabannya seiring waktu.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s