DESIR KAPAL: Persinggahan Terjahatmu

Aku adalah tempat singgahmu ketika dunia menghitamkan bahagia. Aku adalah ruang sesalmu ketika bumi memutar arahnya. Aku adalah bagian kosong, yang hanya kau isi ketika duka tengah memelukmu dengan sengaja. Kau hanya datang ketika luka berusaha mengoyak kepala; merubuhkan sisi positif manusia.

Sementara manusia lainnya mulai memahami arti ‘biarkan saja’, aku tetap menjadi lelaki yang rela kau jumpai tanpa logika. Tak lagi ada nalar yang berkibar ketika aku merasakan debar. Isakanmu adalah cemasku. Air matamu adalah panggung ketakutanku.

Kau bilang, kekasihmu baru saja memarahimu; mengguruimu dengan kata-kata kasar andalannya. Entah, sudah berapa kali aku mendengar penyebab tangismu itu. Kasarnya kekasihmu sudah menjadi nyanyian pengiring heranku. Di mataku, kau tak lebih dari manusia yang gemar memelihara lara; manusia yang sekuat mungkin mempertahankan hal-hal yang tak membuatmu bahagia.

Lantas, sampai kapan? Apakah seseorang yang tak lagi membagi ‘kasih’ masih pantas disebut kekasih?

Kelak, sedihmu hanya akan menjadi permainan; bagian dari mewahnya tertawaan. Seketika, ide jahat dan logikaku berjabat tangan. Aku memintamu untuk mengambil keputusan dan meninggalkan ia yang hanya mampu membawamu ke dalam ratapan.

Di saat yang sama, aku tak lagi hanya menjadi tempatmu membuang luka, tetapi menjelma menjadi perusak hubungan manusia.

Untungnya, kau menolak; memutuskan untuk bertahan. Kau memilih untuk tidak meninggalkan karena sebuah alasan yang kau sebut ‘kebiasaan’. Kau tak peduli walau kau dan dia tak lagi dilandasi perasaan. Bagimu, selalu ada kemungkinan untuk memperbaiki hubungan. Bagimu, pertikaian kelak akan menghadirkan kerinduan.

Maka, terdiamlah aku dengan segumpal lamunan; menyusun kembali isi kepala yang hampir berserakan. Karena di balik rasaku padamu yang semakin meretas, caraku untuk mendapatkanmu masih jauh dari pantas.

Bukan ragamu yang harus aku dapatkan. Bukan juga cintamu yang harus aku paksakan. Tetapi tentang bagaimana aku memenuhimu dengan keistimewaan; sejumlah bahagia yang sudah seharusnya aku tanamkan.

Di antara hening setelah pamitnya perbincangan, aku menjadi lelaki yang mencoba memahami arti keikhlasan. Menghindari penyebab perpisahan; menjauhi rusaknya hubungan.

— Dionisius Dexon

 


 

‘Desir Kapal’ adalah kumpulan kisahku yang terjadi pada tahun 2011-2013, yang dituliskan dalam bentuk catatan perasaan. ‘Desir Kapal’ tidak disusun berdasarkan urutan waktu karena aku ingin bebas menulis kenangan yang kuingat lebih dulu.

Silakan baca tulisan ‘Desir Kapal’ lainnya di sini: #DesirKapal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s