Kita adalah Awal

[ Februari 2012 ] Aku tengah terbakar matahari ketika sosokmu datang menghampiri. Kau menatapku dalam, layaknya seseorang yang tengah menerka hati orang lain dalam diam. Jika kau ingin tahu, aku benci tatapanmu. Jangan tatap aku. Gunakan matamu yang indah itu untuk menerka keistimewaan duniamu. Aku hanya seorang lelaki berparas buruk; lelaki yang tak mengerti akan…

Mata yang Berbicara

[ Maret 2012 ] Kucari dirimu di kala senja sedang menukik tajam. Entah mengapa, ada satu hasrat untuk menemuimu dalam diam. Kepalaku sudah beberapa kali kutepuk dengan telapak tanganku, namun bayangmu tetap menghantui hari-hariku. Jika ini yang disebut dengan ‘cinta’, mengapa aku merasa sangat tersiksa? Kudengar, ketika manusia jatuh cinta, mereka akan merasakan bahagia yang…

Makhluk Penawar Pahit

[ April 2017 ] Pernahkah kau merasa bahwa ‘pahit’ adalah teman baik di kala sulit? Perlahan, kau mulai paham bahwa semesta adalah latar hidup yang kejam. Kau berulang kali disakiti; berulang kali dikhianati; berulang kali dipaksa untuk menghujam jantungmu sendiri. Bukankah menurut para pujangga, hidup ini indah? Jika benar, mengapa kau—dan aku—harus selalu terjun dalam…

Penghuni Tangga

Katakan, apakah aku harus menjadi penghuni tangga untuk bisa selalu bertemu denganmu yang pernah kupuja? Jika harus seperti itu, pastikan kau mengenakan senyum teramahmu. Aku takkan memberimu gombalan kecil atau rayuan yang  nakal. Karena faktanya, aku tak pernah menganggap dan memandangmu secara ‘dangkal’. Aku sudah cukup bahagia dengan pertemuan kita walau kita tak bertegur sapa.…

Laras

Laras, ada banyak alasan mengapa kau masih saja menetap dalam ingatan. Aku tahu, menempatkanmu dalam tulisanku adalah salah satu hal yang kau larang sejak dulu. Kau tak suka dilibatkan dalam hal-hal yang akan kupublikasikan. Kau lebih suka jika aku menyimpanmu dalam kepalaku; dalam ruangan yang dindingnya bertuliskan namamu. Tetapi, untuk kali ini, izinkan aku tak…

Teh atau Kopi?

Selamat datang. Setelah sekian lama kau memuja hilang, kini kau kembali menempatkanku sebagai tujuan pulang. Katakan padaku, apa yang harus kubuat untuk kepulanganmu hari ini? Teh atau kopi? Aku takut kepulanganmu kali ini telah membuatmu tak lagi paham arti menghampiri. Walau senyummu masih sama, aku tak lagi bisa menerka apa saja yang kau dapatkan di tempat nan jauh di…

RENUNG JALAN: Kakek Pengetuk Rasa

Semesta selalu punya cara untuk mengetuk pintu ‘rasa’. Beberapa hari lalu, aku mengantar Ibu dengan sepeda motorku. Seperti biasa, aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah. Aku tidak terlalu lihai dalam mengendarai sepeda motor dan kendaraan lainnya. Bahkan, aku tak berani untuk belajar mengendarai dengan lihai; mengendarai seperti anak-anak muda yang sering mengebut dan menganggap dirinya adalah…